Rabu, 26 Januari 2022

Inovasi Pembelajaran


Innovation (inovasi) adalah suatu ide, barang, kejadian, atau metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang, baik itu berupa hasil diskoveri maupun invensi. Tujuan diadakan inovasi adalah untuk memecahkan suatu masalah tertentu (Kristiawan, dkk. 2018:3). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa inovasi bersifat subyektif dan spesifik. Berikut ini beberapa pengertian inovasi menurut para ahli dalam Kristiawan, dkk. (2018:3-6).

1.      An innovation is an idea for accomplishing some recognition social and in a new way or for a means of accomplishing some social (Elly, 1982, Seminar on Educational Change). Artinya sebuah inovasi adalah ide untuk mendapatkan pengakuan sosial dan cara baru atau sarana untuk mencapai pengakuan sosial.

2.      An innovation is any idea, practice, or mate artifact perceived to be new by the relevant unit of adopt. The innovation is the change object. A change is the alter a part of the actor in response to a situation. The requirement of the situation often involve to a new requirement is aninventive process producing an invention. However, all innovations, since not everything an individual or formal or informal group adopt is perceived as new (Zaltman, Duncan, 1977).

 

Artinya, sebuah inovasi adalah ide, praktik, atau artefak yang dianggap baru oleh unit yang relevan. Inovasi adalah perubahan obyek. Perubahan adalah bagian dari bentuk tanggapan terhadap situasi. Dalam suatu situasi memerlukan proses kreatif untuk menghasilkan sebuah penemuan. Namun, tidak semua hal pembaharuan itu disebut inovasi, karena tidak semua kelompok individu baik kelompok formal maupun informal menganggap suatu hal tersebut merupakan hal yang baru.

3.      The term innovation is usually employed in three different context. In one context it is synonymeous with invention; that is, it refers to a creative process whereby two or more existing concepts or entities are combined in some novel way to produce a configuration not previously known by the person involved. A person or organization performing this type of activity is usually said to be innovative. Most of the literature on creativity treats the term innovation in this fashion (Zaltman, Duncan, Holbek. 1973).

 

Artinya, inovasi biasanya digunakan dalam tiga konteks berbeda. Dalam satu konteks sama dengan penemuan, yakni mengacu pada proses kreatif dimana dua atau lebih konsep yang ada digabungkan dalam beberapa cara baru untuk menghasilkan suatu konfigurasi yang belum diketahui oleh orang. Seseorang atau kelompok orang yang melakukan hal ini biasa disebut inovatif.

4.      Innovation is the creative selection, organization, and utilization of human and material resources in new and unique ways which will result in the attainment of a higher level of achievement for the defined goals and objectives (Huberman, 1973). Artinya, inovasi adalah proses kreatif dalam memilih, mengorganisasi, dan memanfaatkan sumber daya manusia dan material dalam cara-cara baru atau dan unik yang akan menghasilkan pencapaian lebih tinggi untuk tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

5.      Innovation is a species of the genus “change”. Generally speaking it seems useful to define an innovation as a deliberate, novel, specific change, which is though to be more efficacious in accomplishing the goal of system. From the point of view of this book (innovation in education), it seem helpful to consider innovations as being willed and planned for rather than as accruing haphazardly (Miles, 1964).

 

Artinya, inovasi adalah spesies dari genus “perubahan”. Secara umum tampaknya berguna untuk mendefinisikan inovasi sebagai sesuatu yang disengaja, baru, dan perubahan spesifik yang lebih berguna dalam pencapaian suatu tujuan. Inovasi tampaknya membantu untuk mempertimbangkan inovasi tersebut sebagai sesuatu yang direncanakan dengan matang, sehingga bukan diperoleh dengan cara yang sembarangan.

6.      An innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption. It matters little, so far as human behavior is concerned, whether or not an idea is “objectively” new as measured by the lapse of time since its first use or discovery. The perceived newness of the idea for the individual determines his or her reaction to it. If the idea seems new to the individual, it is an innovation (Rogers, 1983).

 

Artinya, sebuah inovasi adalah suatu ide, praktik, atau obyek yang dianggap baru oleh individu atau kelompok individu. Tidak penting, sejauh perilaku manusia yang bersangkutan, apakah ide itu “obyektif” baru yang diukur dengan selang waktu sejak penggunaan pertama atau penemuan. Kebaharuan dirasakan dari sejauh mana reaksi dari individu terhadap ide baru tersebut. Jika ide tersebut tampak baru bagi individu tersebut, maka itulah yang disebut inovasi.

Dari beberapa pengertian, dapat diketahui bahwa tidak terjadi perbedaan yang mendasar tentang definisi inovasi antara satu dengan yang lain. Semua pendapat menyatakan bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara dan barang-barang buatan manusia yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau kelompok orang. Sesuatu yang baru itu dapat berupa hasil diskoveri atau invensi yang dimanfaatkan dalam mencapai tujuan tertentu dan untuk memecahkan masalah tertentu.

Inovasi pembelajaran sendiri yaitu proses belajar  pada peserta didik yang dirancang, dikembangkan, dan dikelola secara kreatif, dinamis, dengan menerapkan pendekatan multi ke arah yang lebih baik, untuk menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang kondusif. Selain itu, inovasi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai metode atau kiat seorang guru dalam membelajarkan peserta didik dengan berbagai tujuan tertentu. Inovasi pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dan harus dimiliki atau dilakukan oleh guru. Hal ini disebabkan karena pembelajaran akan lebih hidup dan bermakna. Kemauan guru untuk mencoba menemukan, menggali, dan mencari berbagai terobosan, pendekatan, metode, dan strategi pembelajaran merupakan salah satu penunjang akan munculnya berbagai inovasi-inovasi baru. Tanpa didukung dengan kemauan dari guru untuk selalu berinovasi dalam pembelajarannya, maka pembelajaran akan menjenuhkan bagi peserta didik. Di samping itu, guru tidak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Mengingat sangat pentingnya inovasi, maka inovasi menjadi sesuatu yang harus dicoba untuk dilakukan oleh setiap guru. Oleh karena itu, seorang guru harus selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran.

Dalam hal ini inovasi yang dimaksud adalah penggunaan media pembelajaran sebagai penunjang dalam keberhasilan proses pembelajaran. Pemakaian media  pembelajaran dalam   proses   belajar   mengajar   dapat   membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan pembelajaran, serta penyampaian pesan dan isi pelajaran sehingga dapat membantu peserta didik  meningkatkan   pemahaman   karena   menyajikan informasi secara menarik dan terpercaya. Selain itu, media pembelajaran   juga   memudahkan   penafsiran   data   dan memadatkan informasi. Hal ini memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan proses dan hasil belajar (Arsyad, 2016).

Media pembelajaran merupakan komponen pembelajaran yang meliputi bahan dan peralatan. Dengan masuknya berbagai teori dan teknologi, media pembelajaran terus mengalami dan tampil dalam berbagai jenis. Beberapa kegunaan praktis dari penggunaan media pembelajaran adalah dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Selain itu, media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian peserta didik sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara peserta didik dan lingkungannya, dan kemungkinan peserta didik untuk belajar mandiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Media pembelajaran juga dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu. Selain itu, metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga peserta didik tidak bosan. Peran media pembelajaran selanjutnya adalah membuat peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar, dan aktivitas lainnnya seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Arsyad, A. (2016). Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kristiawan, M,. dkk. (2018). Inovasi Pendidikan. Ponorogo: Wade Group.


Sabtu, 22 Januari 2022

Teknologi Pendidikan

Dalam kehidupan saat ini banyak hal yang dapat dilakukan dengan mudah dengan adanya teknologi. Pada dasarnya, teknologi itu sudah diterapkan dan diaplikasikan oleh manusia sejak zaman dulu karena teknologi itu berkaitan dengan sistem atau cara untuk memecahkan persoalan tertentu yang dihadapi oleh manusia meski dalam bentuknya yang sederhana (Haryanto, 2015: 5-6).  “Teknologi sebagai sebuah aktivitas manusia yang memiliki nilai yang terhubungkan dengan pengaruh sosial budaya dan lingkungan dalam hal konseptualisasinya” MCGinn (1978:179-180) dalam Haryanto (2015:7). Perkembangan teknologi yang sangat pesat telah dimanfaatkan dalam dunia pendidikan.

Menurut Darmawan (2013) pada hakikatnya alat-alat salah satunya seperti komputer tidak dibuat khusus untuk keperluan pendidikan, akan tetapi dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan bahkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan proses pendidikan. Pembangunan pedidikan berbasis teknologi setidaknya memberikan dua keuntungan. Pertama, sebagai pendorong komunitas pendidikan (termasuk guru) untuk lebih apresiatif dan proaktif dalam maksimalisasi potensi pendidikan. Kedua, memberikan kesempatan luas kepada peserta didik dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada, yang dapat diperoleh dari sumber-sumber yang tidak terbatas (Darmawan, 2017:5).

Di bidang pendidikan, peran guru untuk mendidik peserta didik menjadi manusia  yang selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya sangat penting dalam menentukan perjalanan generasi bangsa ini. Guru dituntut menjadi pendidik yang bisa menjembatani kepentingan-kepentingan itu. Tentu saja melalui usaha-usaha nyata yang bisa diterapkan dalam mendidik peserta didiknya (Darmawan, 2017:8). Salah satu usaha tersebut adalah dengan menggunakan dan memanfaatkan teknologi pendidikan. 

Menurut Nasution (1995) dalam Darmawan (2013:51) mengungkapkan bahwa teknologi pendidikan adalah pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik, dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar. Oleh karena itu, teknologi pendidikan berkenaan baik dengan software maupun hardware. Peran software antara lain adalah menganalisis dan mendesain urutan atau langkah-langkah belajar berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan metode penyajian yang serasi serta penilaian keberhasilannya.

Definisi teknologi pendidikan juga dinyatakan oleh AECT (2004) dalam Haryanto (2015:11) yang mendefinisikan bahwa teknologi pendidikan sebagai sebuah studi dan praktek dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan, memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Dari pengertian ini, jelas bahwa tujuan utamanya adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar bisa efektif, efisien, dan menarik serta mampu meningkatkan kinerja. Selain itu, ada sebuah sentuhan etika dalam menggunakan teknologi dalam praktik pendidikan dalam upaya untuk memfasilitasi proses pendidikan dan meningkatkan kinerja pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, teknologi dijadikan sebagai proses, produk, dan sistem yang dikembangkan untuk mengatasi masalah pendidikan, yaitu masalah mutu, pemerataan, relevansi, efisiensi, dan produktivitas, sehingga untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan suatu disiplin keilmuan khusus yaitu teknologi pendidikan. Karena itulah, pengertian teknologi pendidikan bisa dilihat sebagai 1) sebuah proses yang bisa meningkatkan nilai tambah; 2) produk, yang digunakan dan atau dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja; 3) struktur atau sistem, dimana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan (Haryanto, 2015: 14-15).   

Teknologi pendidikan dan teknologi pembelajaran telah membawa pada upaya terwujudnya berbagai ide dan pemikiran serta prosedur tindakan yang harus dilakukan dalam rangka mewujudkan proses inovasi dalam dunia pendidikan sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang baru baik itu yang berhubungan dengan ide, proses, prosedur, dan hasil yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan berbagai sumber belajar (Darmawan, 2014).

Daftar Pustaka

Darmawan, D. (2013). Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Darmawan, D. (2014). Inovasi Pendidikan Pendekatan Praktik Teknologi Multimedia dan Pembelajaran Online. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Darmawan, D. (2017). Teknologi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Haryanto (2015). Teknologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Prress.