Kamis, 21 Februari 2019

MENGAPA MANUSIA HARUS BELAJAR?

Oleh      : Ai Susilawati
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Untuk mendapatkan sesuatu seseorang harus melakukan usaha agar apa yang diinginkan dapat tercapai. Salahsatu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan belajar. Kata belajar merupakan kata yang sudah tidak asing lagi karena kata tersebut sudah sangat sering didengar, dilakukan, dan dijalani. Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya belajar. Belajar merupakan hal yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan prilaku setiap individu. Sebagian besar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar (Sukmadinata, 2005). Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya, mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu.
Belajar juga dapat dikatakan sebagai suatu aktivitas yang pada hakikatnya akan bermuara kepada hasil yang dicapai. Hasil belajar itu lahir melalui proses pengukuran dan penilaian dengan suatu instrument. Setelah seseorang melakukan perbuatan belajar maka pada dirinya nampak suatu perubahan kearah peningkatan kognitif, afektif dan psikomotor. Perubahan tingkah laku itu memang dapat diamati dan berlaku dalam waktu relatif lama, yang disertai dengan usaha orang tersebut, sehingga orang dari tidak mampu mengerjakan menjadi mampu mengerjakannya.
Belajar juga di definisikan sebagai sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan kemampuan- kemampuan yang lain. Belajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenjang pendidikan. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses pendidikan. Kegiatan belajar bisa dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lainnya.
Dari uraian di atas telah dibahas sedikit tentang belajar dan dapat disimpulkan bahwa setiap individu pasti pernah mengalami belajar, karena belajar merupakan hal yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan prilaku setiap individu. Dalam makalah ini penulis mencoba memaparkan tentang mengapa manusia harus belajar.

B.     Rumusan Masalah
1)      Apa pengertian belajar?
2)      Mengapa manusia harus belajar?

C.    Tujuan Penulisan
1)      Untuk mengetahui pengertian dari belajar
2)      Untuk mengetahui mengapa manusia harus belajar


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas yang didalamnya terdapat sebuah proses. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; belajar juga dapat diartikan sebagai berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Pengertian ini berarti menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya. Sama seperti yang dikemukakan oleh Slameto (2003) yang menyatakan bahwa “belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Ada beberapa pendapat lain yang mengemukakan pengertian belajar. Menurut Nasution, (1991) dalam Hanafy (2014) menyatakan bahwa belajar dalam arti luas merupakan suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku baru yang bukan disebabkan oleh kematangan dan sesuatu hal yang bersifat sementara sebagai hasil dari terbentuknya respons utama. Belajar merupakan aktivitas, baik fisik maupun psikis yang menghasilkan perubahan tingkah laku yang baru pada diri individu yang belajar dalam bentuk kemampuan yang relatif konstan dan bukan disebabkan oleh kematangan atau sesuatu yang bersifat sementara. Perubahan yang disebabkan oleh kematangan, pertumbuhan, dan perkembangan seperti anak yang mampu berdiri dari duduknya atau perubahan fisik yang disebabkan oleh kecelakaan tidak dapat dikategorikan sebagai hasil dari perbuatan belajar meskipun perubahan itu berlangsung lama dan konstan (Hanafy, 2014).
Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan ranah psikomotorik. Proses belajar yang mengaktualisasikan ketiga ranah tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu. Dalam perspektif psikologi, belajar adalah merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar. Belajar itu bukan sekedar pengalaman, belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Sementara pengertian belajar dalam perspektif agama yaitu Islam, belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat hidupnya meningkat. Belajar juga merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku menuju perubahan tingkah laku yang baik, dimana perubahan tersebut terjadi melalui latihan atau pengalaman. Perubahan tingkah laku tersebut harus relatif mantap yang merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar tersebut menyangkut berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan ataupun sikap (Darnim dan Khairil, 2011 dalam Nidawati, 2013).
Belajar merupakan kewajiban bagi setiap individu. Di mana aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak lancar. Kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari namun sebaliknya kadang-kadang terasa sangat sulit. Aktivitas belajar setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual  inilah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor intern yang mencakup segala keadaan yang muncul dalam diri anak didik dan faktor ekstern yang mencakup segala keadaan yang berasal dari luar diri anak didik. Dari kedua faktor ini, yang terkait dengan psikologi belajar adalah faktor intern atau faktor dalam diri anak didik.
Menurut Durton dalam Nidawati (2013) “learning is a change the individual due to intraction of that individual and his environments which fills a need and makes him capable of dealing adequality with his environment”. Belajar adalah suatu perubahan dalam diri individu sebagai hasil interaksi lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan dan menjadikannya lebih mampu melestarikan lingkungan secara memadai. Hilgard dan Bower dalam Nidawati (2013) juga mengemukakan bahwa belajar memiliki arti “to gain knowledge, comprehension, or mastery of trough experience or study, to fix in the mind or memory, memorize; to acquire trough experience, to become in form of to find out”. Menurut pengertian ini, belajar adalah uuntuk memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.
Sedangkan menurut Skinner dalam Dimyati dan Mudjiono (2009) belajar adalah suatu prilaku pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut: (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon pembelajar, (2) respon si pembelajar, dan (3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan setiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, dan penyesuaian diri. Jadi dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya. Dengan belajar seorang individu bisa mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya, dan bisa pula mengetahui bahwa kehidupan bukanlah soal hidup, mencari kenikmatan lalu mati. Dengan belajar seorang bisa mampu mengendalikan dirinya dengan mematuhi hukum alam yang berlaku dan mengetahui serta mengambil posisi dalam peradaban manusia serta buah yang dihasilkan dengan belajar bukan hanya kecerdasan, tetapi kedamaian, kejernihan, dan kebijaksanan yang sejati.
Pada intinya hakikat belajar adalah adanya perubahan tingkah laku, maka ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan ke dalam ciri-ciri belajar menurut Djamarah (2002) sebagai berikut :
1)      Perubahan yang terjadi secara sadar
Individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan atau sekurangkurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2)      Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri indiviu berlangsung terus-menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya.
3)      Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan selalu bertambah dan tertuju memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Makin banyak usah belajar dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh.
4)      Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan bersifat sementara yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja seperti berkeringat, keluar air mata, menangis dan sebagainya. Perubahan terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen.
5)      Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku jika seseorang belajar sesuatu sebagai hasil ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilam, pengetahuan.

B.     Mengapa Manusia Harus Belajar?
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa belajar merupakan proses atau usaha yang dilakukan setiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baik. Dalam bagian ini akan dipaparkan tentang mengapa manusia harus belajar. Ada beberapa alasan mengapa manusia harus belajar, diantaranya:
1)      Kewajiban
Dilihat dari segi agama belajar itu merupakan kewajiban setiap individu. Sudah jelas didalam Al-qur’an dan hadits dijelaskan bahwa belajar itu wajib bagi setiap individu. Belajar dalam pandangan Islam memiliki arti yang sangat penting. Sehingga hampir setiap saat manusia tak pernah lepas dari aktivitas belajar. Keunggulan suatu umat manusia atau bangsa juga akan sangat tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan rasio, anugrah untuk belajar dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Sehingga dalam Al- qur’an dinyatakan Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur (QS. Al- Mujadilah: 11).  
Belajar merupakan jalan menuju sukses. Dengan belajar seseorang dapat mengetahui banyak hal. Dalam hal ini, Islam pun sangat menekankan tentang belajar. Tujuan belajar dalam Islam bukan mencari rezeki di dunia semata, tetapi untuk sampai kepada hakikat, memperkuat akhlak, artinya mencari atau mencapai ilmu yang sebenarnya dan akhlak yang sempurna (Tohirin, 2006 dalam Syarifudin 2011). Islam mengajarkan umatnya untuk terus belajar selagi masih ada kesempatan dan sebelum jasad bersatu dengan tanah. Islam tidak saja mencukupkan pada anjuran supaya belajar bahkan menghendaki supaya seseorang itu terus melakukan pembahasan, research (penelitian) dan studi. Rasulullah SAW dalam haditsnya menyatakan, ”seseorang itu dapat dianggap seseorang yang alim dan berilmu, selama ia masih terus belajar, apabila ia menyangka bahwa ia sudah serba tahu, maka sesungguhnya ia jahil (bodoh)” (Dalyono, 2007 dalam Syarifudin 2011).
2)      Memperoleh Perubahan
Belajar merupakan suatu proses kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu. Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan setiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Oleh karena itu alasan yang selanjutnya mengapa manusia harus belajar adalah untuk memperoleh suatu perubahan dalam dirinya. Perubahan itu mencakup perubahan tingkah laku. Artinya seseorang yang telah belajar akan berubah tingkah lakunya. Tetapi tidak semua perubahan tingkah laku sebagai hasil dari belajar. Menurut Surya (2013) ciri-ciri dari adanya perubahan tingkah laku dalam diri individu diantaranya:
·         Perubahan yang disadari. Artinya, individu yang mengikuti proses pembelajaran menyadari bahwa pengetahuannya telah bertambah, keterampilannya telah bertambah, ia lebih percaya diri, dan sebagainya. Jadi, orang yang berubah perilakunya karena mabuk, tidak termasuk dalam pengertian perubahan karena pembelajaran, karena yang bersangkutan tidak menyadari apa yang terjadi dalam dirinya.
·         Perubahan yang bersifat kontinu (berkesinambungan). Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran akan berlangsung secara berkesinambungan, artinya suatu perubahan yang telah terjadi, menyebabkan terjadinya perubahan perilaku yang lain. Misalnya, seorang anak yang telah belajar membaca, perilakunya akan berubah dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca. Kecakapannya dalam membaca menyebabkan ia dapat membaca lebih baik lagi dan dapat belajar yang lain, sehingga ia dapat memperoleh perubahan perilaku yang lebih banyak dan lebih luas.
·         Perubahan yang bersifat fungsional. Artinya, perubahan yang telah diperoleh sebagai hasil pembelajaran menghasilkan manfaat bagi individu yang bersangkutan. Misalnya kecakapan dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris memberikan manfaat untuk belajar hal- hal yang lebih luas.
·         Perubahan yang bersifat positif. Artinya, perubahan yang diperoleh senantiasa bertambah sehingga berbeda dengan keadaan sebelumnya. Orang yang telah belajar akan merasakan ada sesuatu yang lebih banyak, sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih luas dalam dirinya. Misalnya ilmu menjadi lebih baik dan sebagainya.
·         Perubahan yang bersifat aktif. Artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi melalui serangkaian aktivitas yang terencana dan terarah. Perubahan yang terjadi karena kematangan, bukan hasil pembelajaran karena dengan sendirinya sesuai dengan tahapan- tahapan perkembangan. Dalam kematangan, perubahan itu akan terjadi dengan sendirinya meskipun tidak ada usaha pembelajaran. Misalnya kalau seorang anak sudah sampai pada usia tertentu, akan sendirinya dapat belajar dengan sendirinya dapat berjalan meskipun belum/tidak belajar.
·         Perubahan yang bersifat permanen (menetap). Artinya, pembelajaran yang terjadi sebagai hasil pembelajaran akan kekal dalam diri individu, setidak- tidaknya untuk masa tertentu. Ini berarti bahwa perubahan bersifat sementara, seperti sakit, keluar air mata karena menangis, berkeringat, mabuk, bersin, dan sebagainya bukanlah perubahan sebagai hasil pembelajaran. Sedangkan kecakapan kamahiran menulis, misalnya, adalah hasil pembelajaran karena bersifat menetap dan berkembang terus.
·         Perubahan yang bertujuan dan terarah. Artinya, perubahan itu terjadi karena ada sesuatu yang akan dicapai. Dalam proses pembelajaran, semua aktivitas terarah pada pencapaian suatu tujuan tertentu. Misalnya seorang belajar bahasa Inggris dengan tujuan agar ia dapat berbicara menggunakan bahasa Inggris dan dapat mengkaji bacaan-bacaan yang ditulis menggunakan bahasa Inggris. Semua aktivitas pembelajaran terarah kepada tujuan itu, sehingga perubahan- perubahan yang terjadi akan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa belajar adalah untuk memperoleh perubahan.  Setelah adanya proses belajar diharapakan pebelajar dapat berubah, mengubah kebiasaan yang buruk menjadi baik, mengubah sikap dari negatif menjadi positif, tidak hormat menjadi hormat, benci menjadi sayang dan sebagainya (Dalyono, 2007 dalam syarifuddin, 2011).
3)      Kebutuhan
Belajar adalah suatu kebutuhan dasar manusia yang paling penting dalam mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Manusia dalam kenyataan hidupnya menunujukan bahwa manusia membutuhkan suatu proses belajar yang memungkinkan dirinya untuk menyatakan eksistensinya secara utuh dan seimbang. Manusia tidak dirancang untuk hidup secara langsung tanpa proses belajar terlebih dahulu untuk memahami jati dirinya dan menjadi dirinya. Menurut Surya (2013) aktivitas belajar terjadi karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Dengan kata lain, belajar merupakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai suatu tujuan. Belajar tidak akan efektif tanpa adanya dorongan dan tujuan.  
4)      Menggapai Cita-cita
Setiap manusia di mana saja berada tentu melakukan kegiatan belajar mengajar. Seorang siswa yang ingin mencapai cita-citanya tentu harus belajar dengan giat. Bukan hanya di sekolah saja, tetapi juga harus belajar di rumah, masyarakat, lembaga pendidikan ekstra di luar sekolah, berupa kursus, les privat, bimbingan studi dan sebagainya (Dalyono, 2007 dalam Syarifudin 2011). 
5)      Memiliki Keterampilan
            Selain kecerdasan dibutuhkan juga keterampilan. Kehidupan di masa sekarang ini menuntut berbagai keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki oleh seseorang sebagai bekal hidupnya. Keterampilan akan diperoleh dari hasil belajar. Perubahan dalam bentuk skill atau keterampilan karena adanya latihan. Belajar mempunyai keterkaitan dengan latihan meskipun tidak identik. Dalam pembelajaran dan dalam latihan akan terjadi perubahan prilaku. Pembelajaran akan berhasil apabila disertai dengan latihan-latihan yang teratur dan terarah (Surya, 2013).
6)      Menambah Pengetahuan dalam Berbagai Bidang Ilmu
Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir. Pemilikan pengetahuan dan kemampuan berpikir sebagai yang tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berpikir akan memperkaya pengetahuan. Menurut Surya (2013) kemampuan berpikir merupakan suatu proses kognitif dalam tingkat yang tinggi yang terjadi dalam tatanan abstrak dan didukung oleh daya nalar. Dalam berpikir, individu akan menggunakan sebagian informasi dan konsep-konsep yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Untuk dapat berpikir secara efektif, seseorang harus memguasai sejumlah informasi (fakta, konsep, generalisasi, prinsip, teori, dan sebagainya) untuk dijadikan sebagai dasar dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Informasi yang dimiliki seseorang diperoleh melalui proses pembelajaran. Ini berarti bahwa terdapat keterkaitan antara proses berpikir dengan pembelajaran. Pembelajaran yang efektif (terutama pembelajaran pemecahan masalah) sangat memerlukan keterampilan berpikir. Dan, untuk berpikir diperlukan hasil-hasil pembelajaran. Berpikir itu sendiri sebenarnya merupakan proses pembelajaran. Orang tidak mungkin berpikir tanpa belajar, dan tidak mungkin belajar tanpa berpikir. Sehingga badapat dikatakan bahwa dengan belajar seseorang dapat menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu.
            Selain itu, dilihat dari pengertian belajar yang merupakan suatu proses sehingga adanya perubahan tingkah laku hasil dari belajar tersebut. Menurut Surya (2013) beberapa pakar menyebutkan adanya beberapa jenis prilaku sebagai hasil dari pembelajaran. Lindgren (1968) menyebutkan isi pembelajaran terdiri atas kecakapan, informasi, pengertian dan sikap. Dua pakar yang banyak memberikan kontribusi berkenaan dengan hasil pembelajaran adalah Benyamin Bloom (1956) dan Robert Gagne (1957,1977) yang kemudian menjadi rujukan  dalam penerapan pembelajaran di dunia pendidikan. Pendapat Bloom yang dikenal dengan sebutan taksonomi tujuan pendidikan Bloom menyebutkan ada tiga ranah perilaku sebagai tujuan dan hasil pembelajaran, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.  
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Belajar erat kaitannya dengan proses perubahan. Namun, tidak semua proses perubahan dikatakan belajar. Misalnya, seseorang yang meminum minuman keras, lalu mabuk. Maka perubahan itu tidaklah dikatakan belajar. Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap pada seseorang akibat pengalaman atau latihan yang menyangkut aspek fisik maupun psikis, seperti dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak berpengetahuan menjadi tahu tentang sesuatu, dari tahu menjadi lebih tahu, dari tidak memiliki keterampilan menjadi memiliki keterampilan dan sebagainya. Ada beberapa alasan mengapa manusia harus belajar diantaranya yaitu karena belajar merupakan kewajiban, karena dengan belajar akan memperoleh perubahan, karena belajar merupakan suatu kebutuhan, karena dengan belajar akan mampu  menggapai cita-cita, karena dengan belajar akan memiliki keterampilan dan akan menambah ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang studi.
B.     Saran
Setiap individu harus selalu meningkatkan kualitas hidupnya. Kualitas hidup seseorang dapat diperoleh dengan belajar karena dengan belajar suatu perubahan akan dicapai sebagai hasil dari proses belajar tersebut. Oleh karena itu setiap individu harus terus belajar tanpa henti, tidak mengenal individu itu muda atau tua karena belajar merupakan suatu kewajiban dan kebutuhan setiap individu.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati, dan Mudjiono.  (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djumarah, Syaiful Bahri. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 
Hanafy, M. Sain. (2014). Konsep Belajar dan Pembelajaran.  Jurnal Lentera Pendidikan Vol. 17 No. 1 Juni 2014 66-79.
Nidawati. (2013). Belajar dalam Perspektip Psikologi dan Agama. Jurnal Pionir Vol. 1 no. 1 Juli- Desember 2013.
Pusat Bahasa-Depdiknas-Organizational Body. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Edisi 4. Jakarata: Gramedia Pustaka Utama.  
Slameto. (2003). Belajar dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukmadinata, Nana, S. (2005). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT. Rosda Karya.  
Surya, Mohamad. (2013). Psikologi Guru Konsep dan Aplikasi dari Guru, untuk Guru. Bandung: Alfabeta.
Syarifudin, Ahmad. (2011). Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Belajar Dan Faktor- Faktor Yang Mempengaruhinya. Jurnal Ta’dib Vol. XVI, No. 01, Edisi Juni 2011 Fakultas Tarbiyah IAIN  Raden Fatah Palembang.





Minggu, 17 Februari 2019

PROSEDUR PENGEMBANGAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN YANG BERBASIS KEBUTUHAN
Oleh: Ai Susilawati

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan secara sistematis dalam mewujudkan suasana belajar mengajar agar para pebelajar dapat mengembangkan potensi dirinya. Dengan adanya pendidikan maka seseorang dapat memiliki kecerdasan, akhlak mulia, kepribadian, kekuatan spiritual, dan keterampilan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat. Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Hal ini berarti proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap, pengembangan kecerdasan atau intelektual, serta pengembangan keterampilan anak sesuai kebutuhan (Sanjaya, 2009).
Dalam melaksanakan proses belajar mengajar terlebih dahulu kita akan ditanya kenapa manusia itu melakukan proses pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan tujuan dari orang atau manusia itu sendiri dalam mengikuti proses pembelajaran. Atau dapat dikatakan ini adalah sebuah kebutuhan yang secara lahiriah maupun batiniah harus tercapai. Dalam proses pembelajaran peserta didik juga memiliki kebutuhan agar dalam proses pembelajaran berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang direncanakan. Tujuan dari peserta didik untuk belajar tentunya untuk menjadi lebih baik sehingga kelak ilmu yang mereka peroleh melalui proses belajar mengajar dapat diterapkan dalam kehidupannya. Belajar diartikan sebagi proses perubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang terampil menjadi terampil dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri (Trianto, 2009).
Kebutuhan dalam proses belajar sangat diperlukan, karena kebutuhan dalam belajar merupakan dasar yang menggambarkan jarak antara tujuan belajar yang diinginkan oleh peserta didik atau keadaan belajar yang sebenarnya. Setiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda-beda hal ini perlu diidentifikasi untuk menentukan kebutuhan mana yang dimiliki peserta didik yang akan menjadi potensial dan pada akhirnya menjadi kebutuhannya.
Dalam upaya untuk mencapai proses pembelajaran yang diinginkan oleh peserta didik, maka peran pendidik (guru) dalam mengajar akan menjadikan suatu faktor penentu keberhasilan tercapai atau tidaknya suatu tujuan pembelajaran. Seorang pendidik perlu melakukan identifikasi terlebih dahulu kepada masing-masing peserta didiknya, hal ini berguna untuk apa yang telah disampaikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran dapat diterima dengan baik oleh peserta didik (Hanipah, 2016). Menurut Sanjaya (2009) dalam kegiatan belajar mengajar, guru memegang peranan yang sangat penting. Guru menentukan segalanya. Mau diapakan siswanya? apa yang harus dikuasai siswa? bagaimana cara melihat keberhasilan belajar? semua tergantung guru. Oleh karena itu pentingnya peran guru, maka biasanya proses pengajaran hanya akan berlansung manakala ada guru, dan tak mungkin ada proses pembelajaran tanpa guru.
Menganalisis kebutuhan merupakan salahsatu kegiatan yang penting dalam mendesain pembelajaran. Hal ini sesuai dengan tujuan desain yang dikembangkan untuk membantu menyelesaikan kebutuhan belajar untuk siswa. Mendesain pembelajaran yang diawali dengan studi kebutuhan memungkinkan hasilnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh individu.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang prosedur pengembangan perencanaan pembelajaran yang beerbasis kebutuhan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari analisis kebutuhan?
2.      Apa fungsi dari analisis kebutuhan?
3.      Apa tujuan dari analisis kebutuhan?
4.      Apa peranan dari analisis kebutuhan?
5.      Apa langkah-langkah dalam analisis kebutuhan?
6.      Bagaimana analisis kebutuhan dalam belajar mengajar?
7.      Dari manakah sumber analisis kebutuhan?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari analisis kebutuhan
2.      Untuk mengetahui fungsi dari analisis kebutuhan
3.      Untuk mengetahui tujuan dari analisis kebutuhan
4.      Untuk mengetahui peranan dari analisis kebutuhan
5.      Untuk mengetahui langkah-langkah dalam analisis kebutuhan
6.      Untuk mengetahui analisis kebutuhan dalam belajar mengajar
7.      Untuk mengetahui sumber analisis kebutuhan

D.    Manfaat Penulisan
1.      Dapat mengetahui pengertian dari analisis kebutuhan
2.      Dapat mengetahui fungsi dari analisis kebutuhan
3.      Dapat mengetahui tujuan dari analisis kebutuhan
4.      Dapat mengetahui peranan dari analisis kebutuhan
5.      Dapat mengetahui langkah-langkah dalam analisis kebutuhan
6.      Dapat mengetahui analisis kebutuhan dalam belajar mengajar
7.      Dapat mengetahui sumber analisis kebutuhan


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Analisis Kebutuhan
Dalam konteks pengembangan kurikulum John Mc-Neil (1985) dalam Sanjaya (2008) mendefinisikan need assessment sebagai “the process by which one defines educational needs and decides what their priorities are”. Jadi menurut Mc. Neil, assessment itu adalah proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan. Selanjutnya ia mendefinisikan tentang kebutuhan sebagai “ . . . . a condition in which there is a discrepancy between an acceptable state of learner behavior or attitude and an observedlearner state”.
Sejalan dengan pendapat Mc. Neil, Seels dan Glasgow (1990) menjelaskan tentang pengertian tentang need assessment: “it means a plan for gathering information about discrepancies and for using that information to make decisions aout priorities”. Kebutuhan itu pada dasarnya adalah kesenjangan (discrepancies) antara apa yang telah tersedia dengan apa yang diharapkan, dan need assessment adalah proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan untuk dipecahkan.
Roger Kaufman & Fenwick W. English (dalam Warsita, 2011) mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas, lalu memilih hal yang lebih penting untuk diselesaikan masalahnya. Maka analisis kebutuhan adalah alat atau metode untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan atau solusi yang tepat.
Ada beberapa hal yang melekat pada pengertian need assessment, seperti ayng dikemukakan baik oleh McNeil maupun oleh Glaslow. Pertama, need assessment merupakan suatu proses artinya ada rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan need assessment. Need assessment bukanlah suatu hasil, akan tetapi suatu aktivitas tertentu dalam upaya mengambil keputusan tertentu. Kedua, kebutuhan itu sendiri pada hakikatnya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Dengan demikian maka need assessment itu adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang kesenjangan yang seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki.
Kegiatan melaksanakan need assessment merupakan suatu kegiatan yang pertama kali harus dilakukan dalam setiap model desain sistem intruksional. Hal ini menunjukan begitu pentingnya melacak informasi tentang harapan dan kenyataan, yakni kemampuan yang harus dimiliki dengan kemampuan yang telah dimiliki.

B.     Fungsi Analisis Kebutuhan
Metode Need Assessment dibuat untuk bisa mengukur tingkat kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran siswa dari apa yang diharapkan dan apa yang sudah didapat. Dalam pengukuran kesenjangan seorang analisis harus mampu mengetahui seberapa besar masalah yang dihadapi.
Beberapa fungsi Need Assessment menurut Morisson (2001) dalam Alfarisi, Iskarimah dan Khasan (2013) sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
2.      Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
3.      Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
4.      Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan menurut (Morrison, 2001) dalam Alfarisi, Iskarimah dan Khasan (2013), yaitu:
1.      Kebutuhan Normatif, membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misalnya, UN, SNMPTN, dan sebagainya.
2.      Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misalnya, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
3.      Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau kinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara wawancara.
4.      Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misalnya, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
5.      Kebutuhan masa depan, yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misalnya, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
6.      Kebutuhan insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misalnya, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.

C.    Tujuan Analisis Kebutuhan
Berikut merupakan tujuan analisis kebutuhan pembelajaran (Warsita, 2011):
1.      Menginventaris atau mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran.
Identifikasi masalah merupakan proses membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan yang diharapkan atau seharusnya. Hasilnya akan menunjukkan kesenjangan antara kedua keadaan tersebut. Kesenjangan ini disebut dengan kebutuhan. Bila kesenjangan kedua keadaan tersebut besar, kebutuhan itu perlu diperhatikan atau diselesaikan. Kebutuhan yang besar dan ditetapkan untuk diatasi itu disebut masalah. Oleh karena itu, kebutuhan yang lebih kecil mungkin untuk sementara waktu atau seterusnya diabaikan. Artinya, kebutuhan yang tidak dianggap sebagai masalah. Hasil akhir dari identifikasi masalah adalah perumusan tujuan pembelajaran umum.
2.      Menyusun skala prioritas pemecahan masalah
Setelah anda mengetahui masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi, maka Anda perlu mencari alternatif pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan skala prioritas pemecahan masalah. Adapun beberapa pertimbangan yang perlu Anda perhatikan dalam menilai atau menentukan skala prioritas pemecahan masalah, yaitu:  tingkat signifikansi pengaruhnya, luas ruang lingkupnya, dan pentingnya peranan kesenjangan tersebut terhadap masa depan lembaga atau program.
3.      Merumuskan tujuan
Hasil kegiatan analisis kebutuhan pembelajaran yaitu daftar pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang masih belum dikuasi peserta didik dan perlu dikuasi peserta didik. Dengan kata lain, kegiatan analisis kebutuhan ini akan menghasilkan kompetensi kompetensi yang masih belum dikuasai dan perlu dikuasai peserta didik. Kompetensi dasar inilah yang akan menjadi dasar acuan tahap selanjutnya yaitu perumusan Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau Tujuan Pembelajaran Umum (TPU).

D.    Peranan Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan alat yang konstruktif dan positif untuk melakukan perubahan. Perubahan yang didasarkan atas logika yang bersifat rasional, perubahan fungsional yang dapat memenuhi kebutuhan kelompok dan individu. Perubahan ini menunjukkan upaya formal yang sistematis menentukan dan mendekatkan jarak kesenjangan antara “seperti apa yang ada” dengan “bagaimana seharusnya”.
Tiga langkah penting yang dilakukan oleh guru inovatif dalam menyiapkan rencana pembelajaran dengan memasukkan unsur analisis kebutuhan yang disisipkan di antara pemilihan materi dengan pemilihan strategi pembelajaran, sebagaimana contoh bagan berikut:
1.      Apa yang diajarkan?
2.      Mengapa mengajarkan yang kita ajarkan?
3.      Bagaimana mengajarkan?


E.     Langkah-Langkah Analisis Kebutuhan
Sebagai suatu proses, need assessment terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Secara lengkap kegiatan need assessment digambarkan oleh Glaslow dalam komponen-komponen need assessment.
1)      Tahapan Pengumpulan Informasi
Text Box: Merumuskan MasalahDalam merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap karateristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam proses pemecahan masalah.


 









                        Gambar 2.1 Komponen Need Assesment
Witkin (1984) dalam Sanjaya (2008) mendefinisikan analisis kebutuhan, sebagai proses membuat keputusan dengan memanfaatkan informasi yang dikumpulkan. Ia merumuskan pengumpulan informasi dalam Sembilan pokok pertanyaan sebagai berikut:
·         Siapa yang membutuhkan need assessment?
·         Mengapa need assessment dibutuhkan?
·         Meliputi apa saja need assessment itu?
·         Untuk siapa kebutuhan ini dirumuskan dan bagaimana levelnya?
·         Bagaimana jenis dan jumlah data yang dikumpulkan untuk mencapai tujuan yang dirumuskan?
·         Bagaimana menentukan metode dan sumber yang digunakan dalam mengumpukan data?
·         Apa yang dapat dilakukan dalam menentukan orang, dana, dan waktu?
·         Bagaimana produk need assessment digunakan dalam mencapai tujuan, menentukan kendala dan menentukan sumber?
Untuk lebih mudahnya ada tiga hal yang dapat diingat dalam proses perencanaan pengumpulan data yaitu:
·         Apa yang anda ingin ketahui?
·         Bagaimana yang anda akan lakukan dalam proses pengumpulan data itu?
·         Siapa yang dapat dijadikan sumber informasi dalam proses pengumpulan data itu?
Data-data yang terkumpul akan bermanfaat dalam menentukan dalam menentukan dan menyusun langkah-langkah selanjutnya. Yang jelas seorang desainer pembelajaran dalam proses merancang sistem pembelajaran harus berpijak pada informasi yang terkumpul.
Persoalan mengenai scope dari need assessment meliputi tahapan-tahapan pelaksanaan, penentuan sumber, dan penjadwalan. Persoalan mengenai jenis informasi yang dibutuhkan meliputi fakta atau pengetahuan, kemampuan atau kompetensi, sikap dan pandangan, serta tingkat hubungan. Persoalan mengenai teknik pengumpulan data biasa dilakukan dengan wawancara, studi dokumentasi, oservasi, dan diskusi. Persoalan mengenai penggunaan sumber  dapat dilakukan melalui sumber manusia, pelayanan, dan teknik laporan.
Seorang pengumpul data perlu memiliki kemampuan dalam pelaksanaan teknis, misalnya dalam melakukan wawancara, observasi, serta dalam memanfaatkan sumber yang ada. Sebaliknya proses pengumpulan data, tidak dilakukan hanya dengan satu teknik saja melainkan bias dilakukan berbagai jenis teknik pengumpulan data secara bersamaan. Misalnya ketika seorang pengumpul data melakukan wawancara sekaligus ia juga melakukan observasi dan mungkin melakukan observasi dan mungkin melakukan studi dokumentasi.
2)      Tahapan Identifikasi Kesenjangan
Dalam mengidentifikasi kesenjangan. Kaufman dan English (1979) dalam Sanjaya (2008), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Dua elemen pertama, yaitu input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Kategori kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman seperti pada gambar dibawah ini
Right Arrow: Output Right Arrow: Outcome
Right Arrow: Produk
 


Gambar 2.2 Kategori Kebutuhan
            Komponen input meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar, kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi, perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku. Komponen produk meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dimiliiki, serta kelulusan tes kompetensi.
            Komponen output meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen outcome meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan.
            Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil, desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan kesenjangan antara harapan dana pa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah, desainer dapat mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni input, proses, produk, dan output.
3)      Analisis Performance
Tahap ketiga dalam proses need assessment adalah tahap menganalisis performance. Menganalsis performance dilakukan setelah desainer memahami berbagai informasi dan mengidentifikasi kesenjangan yang ada. Ketiak kita menemukan adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana yang dapat dipecahkan melalui perencanaan pempelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktr organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat-alat. Untuk menentukan semua itu kita perlu memahami faktor penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada saat need assessment berlangsung.
Analisis performance meliputi beberapa hal diantaranya:
·         Mengidentifikasi guru. Bagaimana kinerja guru selama ini dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam pengelolaan pembelajaran? Analisis performance mengenai hal ini perlu dilakukan, sebaba bagaimanapun lengkap dan tersedianya segala kebutuhan pembelajaran maka tidak akan bermakna manakala kemampuan guru tidak menunjang. Menganalsis performance guru tidak terbatas pada penguasaan materi pembelajaran saja, akan tetapi juga terhadap keterampilan dalam mengelola pembelajaran misalnya keterampilan dalam pengguaan berbagai strategi pembelajaran, pemanfaatan alat, bahan dan sumber belajar serta kemampuan melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa.
·         Mengidentifikasi sarana dan kelengkapan penunjang. Bagaimana kelengkapan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keberhasilan pembelajaran? Diakui, adanya kesenjangan bias terjadi manakala proses pemmbelajaran tidak ditunjang oleh sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Seorang desainer pembelajaran perlu mengevaluasi dan menganalisis kondisi ini, sebab bagaimanapun idealnya suatu pemecahan masalah yang diusulkan akhirnya akan kembali pada tersedia atau tidaknya sarana pendukung. Sistem pendidikan cenderung akan efektif manakala didukung oleh ketersediaan fasilitas sebagai sumber pendukung.
·         Mengidentifikasi berbagai kebijakan sekolah. Bagaimana kebijakan-kebijakan sekolah dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran? Untuk menunjang keberhasilan, pimpinan sekolah perlu menerbitkan berbagai kebijakan yang dapat memfasilitasi guru dalam melaksanakan programnya. Dengan demikian, pimpinan sekolah dituntut untuk terbuka terhadap segala permasalahan yang dihadapi semua unsur yang berkepentingan dalam pelaksanaan program sekolah baik terbuka terhadap guru, komite dan orangtua, siswa dan unsur lainnya.
·         Mengidentifikasi iklim sosial dan iklim psikologis. Bagaimana suasana di sekolah? Apakah sekolah memiliki iklim yang baik sehingga dapat mendukung keberhasilan setiap program? Iklim sosial adalah hubungan yang baik antara semua unsur sekolah, sedangkan iklim yang psikologis suasana kebersamaan antara semua unsur sekolah.
Disamping semua unsur tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya penerapan hukuman dan ganjaran, sistem insentif yang diberikan baik pada guru maupun pada siswa.
4)      Mengidentifikasi Kendala Beserta Sumber-Sumbernya
Tahap keempat dalam need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala biasa muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi waktu, fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal dan organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru, kepala sekolah, dan siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsur orang ini adalah unsur filsafat atau pandangan orang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya meliputi ketersediaan dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan beserta pengaturannya.
5)      Identifikasi Karakteristik Siswa
Tahap kelima dalam need assessment adalah mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang berkaitan dengan siswa diantaranya adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat sosial ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik siswa seperti itu, akan bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran yang dianggap cocok, serta untuk menentukan teknik evaluasi yan relevan. Hal ini seperti yang diungkapkan McGowan dan Clark (1985): “You can take this information about the learner into acoun when selecting intructioanl strategies”. Strategi pembelajaran yang digunakan akan berbeda untuk sisiwa yang kemampuan berpikirnya lebih dibandingkan untuk siswa yan memiliki kemampuan berpikir rendah.
6)      Identifikasi Tujuan
Kaufman (1983) dalam Sanjaya (2008) mendefinisikan need assessment sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumnetasi, dan menjustifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salahsatu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assessment.
Tidak semua kebutuhan menjadi tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer perlu menetapkan kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggpa mendesak untuk dipecahkan sesuai dengan kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment.
Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala prioritas dari data yang terkumpul. Misalnya teknik perangkaian meliputi Teknik Delphi, Fokus Group Discussion, Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini digunakan untuk menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian para ahli yang terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan benar-benar hasil suatu studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan.
7)      Menentukan Permasalahan
Tahap akhir dalam proses analisis masalah adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang ditemukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua paragrap.
Salahsatu format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUPS adalah merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan yang harus dipecahkan.
Terdapat lima pokok pertanyaan yang harus dijawab manakala kita menentukan permasalahan dengan menggunakan teknik RUPS, yakni:
a.       Siapa yang menjadi sasaran permasalahan, apakah anda sendiri, team teaching, kelompok lain? Atau masyarakat?
b.      Siapa dan apa faktor-faktor penyebab permasalahan, apakah karena faktor organisasi? Lemahnya bahan dan alat pendukung?
c.       Macam apa permasalahan yang dihadapi, apakah karena keidaksepakatan tentang tujuan? Apakah karena lemahnya kemampuan? Tidak adanya sumber yang memadai? Lemahnya komunikasi? Adanya konflik dalam membuat keputusan?
d.      Apakah tujuan pengembangan itu, apa yang akan berbeda manakala tujuan telah behasil dicapai? Siapa dan akan mengerjakan apa? Apa target yang harus dicapai?
Selain tahapan analisis kebutuhan Glasgow ada 4 tahap dalam melakukan analisis kebutuhan berdasarkan (Morison, 2011) menyebutkan langkah-langkah analisis kebutuhan sebagai berikut:
a)      Perencanaan
Pada saat perencanaan yang perlu dilakukan adalah klasifikasi siswa siapa yang akan terlibat dalam kegiatan analisis kebutuhan.
b)      Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilaksanakan sesuai dengan perencaan yang telah ditentukan, pada saat pengumpulan data peneliti perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel.
c)      Analisa Data
Setelah semua data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan analisa data berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah dilakukan.
d)      Membuat Laporan Akhir
Langkah terakhir dalam analisis kebutuhan adalah membuat laporan akhir terkait dengan hasil penelitian yang dilaksanakan.

F.     Analisis Kebutuhan Dalam Belajar Mengajar
1.      Ketika guru diserahi tugas mengajar dan akan mulai melaksanakan tugas, seorang guru harus memusatkan perhatian ke arah pencapaian tujuan, lalu memperhatikan materi yang menunjang tujuan serta menentukan cara penyampainnya.
2.      Setelah terpilih materi yang akan diajarkan, guru menelaah kembali materi terpilih untuk dicocokkan dengan kebutuhan siswa. Inilah inti perbedaan antara perencanaan pengajaran tradisional dengan perencanaan yang memikirkan kebutuhan siswa.Dalam pendidikan inovatif, peserta didik merupakan focus dari seluruh proses kegiatan.
3.      Guru yakin terhadap materi, lalu menentukan strategi yang tepat untuk penyampaian materi tersebut, meliputi: pemilihan cara atau metode, pengelolaan kelas dan media yang digunakan untuk mendukung penyampaian.
4.      Untuk dapat melaksanakan tugas pendidikan baik guru seyogyanya harus paham tentang “alat” dan “tujuan”. Dengan memahami tujuan, maka akan tepat dalam memilih alternative alat untuk mencapainya. Gagal mengidentifikasi “apa” yang akan dicapai sebelum menentukan “bagaimana” mencapainya dengan resiko sesedikit mungkin, dengan biaya sehemat mungkin, akan gagal pula mencapai sukses secara optimal. Analisis kebutuhan merupakan seperangkat alat dan teknik formal, serta cara untuk mencermati dunia secara lebih ilmiah karena memandang alat dan tujuan dalam satu perspektif kesatuan yang bermakna.
G.    Sumber Analisis Kebutuhan
Seperti yang telah dijelaskan desain intruksional berorientasi pencapaian kompetensi, adalah sistem desain yang dikembangkan untuk mendukung keberhasilan kurikulum yang berorientasi pada kompetensi, seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Secara umum ada dua jenis analisis kebutuhan, yakni analisis kebutuhan akademis dan nonakademis.
1.      Analisis Kebutuhan Akademis
Analisis kebutuhan akademis adalah kompeetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikakn (KTSP). Kompetensi yang harus dicapai oleh KTSP tercermin dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (SI dan SKL) sebagai standar kemmapuaun minimal yang harus dicapai.
Dalam peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentnag Standar Nasional Pendidikan Bab V Pasal 26 dijelakan Standar Kompeensi Lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikann menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi dan seni, yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Selanjutnya standar kompetensi lulusan seperti yang dittapkan peraturan pemerintah tersebut, dijabarkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetenis Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) sebagai berikut:
a.       SKL SD/MI/SDLB*/Paket A
1)      Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak.
2)      Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
3)      Memahami aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
4)      Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan social ekonomi dilingkungan sekitarnya.
5)      Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif.
6)      Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik.
7)      Menunjukan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya.
8)      Menunjukan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
9)      Menunjukan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial dilingkungan sekitar.
10)  Menunjukan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia.
11)  Menunjukan kemampuan untuk meakukan kegiatan seni dan budaya lokal.
12)  Menunujukan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan
13)  Menunjukan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
14)  Berkomunikasi secara jelas dan santun.
15)  Bekerjasama dalam kelompok, tolong menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan tema sebaya.
16)  Menunjukan kegemaran membaca dan menulis.
17)  Menunjukan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung.
b.      SMP.MTs/SMPLB*/Paket B
1)      Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.
2)      Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
3)      Menunjukan sikap percaya diri.
4)      Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.
5)      Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional.
6)      Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif.
7)      Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
8)      Menunjukan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
9)      Menunkukan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
10)  Mendeskripsikan gejala alam dan sosial.
11)  Memanfaatka lingkungan secara bertanggung jawab.
12)  Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
13)  Menghargai karya seni dan budaya nasional.
14)  Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.
15)  Mennerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
16)  Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.
17)  Memahami hak dan kewajiban diri dan oranglain dalam pergaulan di masyarakat.
18)  Menghargai adanya perbedaan pendapat.
19)  Menunjukan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana.
20)  Menunjukan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa inggris sederhana.
21)  Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.
c.       SMA/MA/SMALB*/Paket C
1)      Berprilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2)      Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya.
3)      Menunujukan sikap percaya diri dan bertanggung jawa atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya.
4)      Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial.
5)      Menghargai kberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global.
6)      Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kratif, inovatif.
7)      Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, dalam pengambilan keputusan.
8)      Menunujukan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
9)      Menunujukan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
10)  Menunujukan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial.
11)  Menunjukan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.
12)  Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan tanggung jawab.
13)  Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
14)  Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya.
15)  Mengapresiasi karya seni dan budaya.
16)  Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
17)  Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan.
18)  Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun.
19)  Memahami hak dan kewajiban diri dan oranglain dalam pergaulan di masyarakat.
20)  Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap oranglain.
21)  Menunjukan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam Bahasa Indonesia dan inggris.
22)  Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.
d.      SMK/MAK
1)      Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2)      Mengembangkan diri secar optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya.
3)      Menunjukan sikap percaya diri dan bertanggng jawab atas perilaku, perbauatn, dan pekerjaannya.
4)      Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial.
5)      Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global.
6)      Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
7)      Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan.
8)      Menunjukan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk memberdayakan diri.
9)      Menunjukan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
10)  Menunjukan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.
11)  Menunjukan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial.
12)  Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggungjawab.
13)  Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
14)  Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya.
15)  Mengapresiasi karya seni dan budaya.
16)  Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
17)  Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan.
18)  Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun
19)  Memahami hak dan kewajiban diri dan oranglain dalam pergaulan di masyarakat.
20)  Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap oranglain.
21)  Menunjukan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam Bahasa Indonesia dan inggris.
22)  Menunjukan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis.
23)  Menguasai kompetensi program keahlian dan kewiraswastaan bak untuk memenuhi tuntutan dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi sesuai dengan kejuruannya.
Selannjutnya sebaga standar isi, dijabarkan pada Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SK-KMP) dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/atau kegiatan setiap kelompok maa pelajaran, sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 sebagai berikut:
Agama dan akhlak Mulia
a.       Untuk SD/MI/SDLB*/Paket A
1)      Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak
2)      Menunjukan sikap jujur dan adil.
3)      Mengenal keberagaman agama, budaya, suku, rasm dan golongan sosial ekonomi diliingkungan sekitar.
4)      Berkomunikasi secara santun yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
5)      Menunjukan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntutan agamanya.
6)      Menunjukan kecintaan dan kepedulian terhadap sesame manusia dan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
b.      SMP/MTs/SMPLB*Paket B
1)       Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.
2)      Menerapkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan.
3)      Memahami keberagaman agama, budaya, suku, ras dan golongan sosial ekonomi.
4)      Berkomunikasi dan berinteraksi dengan efektif dan santun yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan.
5)      Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntunan agamanya.
6)      Memanfaatkan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab.
7)      Mengahrgai perbedaan pendapat dalam mejalankan ajaran agamnya.
c.       SMA/MA/SMALB*/Paket C
1)      Berprilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2)      Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, golongan sosial, dan budaya dalam tatanan global.
3)      Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial.
4)      Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan dimasyarakat.
5)      Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain.
6)      Berkomunikasi dan berinteraksi secara efkektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabanya sebagai makhluk Tuhan.
7)      Menjaga kebersihan, kesehatan, ketahanan dan kebugaran jasmani dalam kehidupan sesuai dengan tuntunan agama.
8)      Memanfaatkan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab.
d.      SMK/MAK
1)      Berprilaku sesuai dengan ajran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2)      Menghargai keberagaman agama, bangsa, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam tatanan global.
3)      Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial.
4)      Memahahi hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
5)      Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadapat orang lain.
6)      Berkomunikasi dan beinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
7)      Menjaga kebersihan, kesehatan, ketahanan dan kebugaran jasmani dalam kehidupan sesuai dengan tuntunan agama.
8)      Pemanfaatan lingkungan sebagai mkhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab.
Kewarganegaraan dan Kepribadian
a.       SD/MI/SDLB*/Paket A
1)      Menunjukan kecintaan dan kebanggan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia.
2)      Smematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
3)      Menghargai keberagaman agama, budaya, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya.
4)      Menunjukan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
5)      Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
6)      Menunjukan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadaro potensinya.
7)      Berkomunikasi secara santun.
8)      Menunjukan kegemaran membaca.
9)      Menunjukan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
10)  Bekerjasama dalam kelompok, tolong- menolong, dan menjaga diri sendriri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya.
11)  Menunjukan kemampuan mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya lokal.
b.      SMP/MTs/SMPLB*/Paket B
1)      Menerapkan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2)      Mematui aturan-aturan sosial, hokum, dan perundangan.
3)      Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkungan nasional.
4)      Memanfaatkan lingkungan secara tanggung jawab.
5)      Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
6)      Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.
7)      Menunjukan sikap percaya diri.
8)      Menunjukan kegemaran membaca dan menulis.
9)      Menunjukan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
10)  Menghargai tugas pekerjaan dan memilki kemampuan untuk berkarya.
11)  Menunjukan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, dan aman dalm kehidupan sehari-hari.
12)  Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di  masyarakat.
13)  Menghargai adnya perbedaan pendapat.
14)  Menghargai karya seni dan budaya.
c.       SMA/MA/SMALB*/Paket C
1)      Berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2)      Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial, hokum, dan perundangan.
3)      Menghargai kebergaman agama, budaya, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam tatanan global.
4)      Memanfaatkan lingkungan secara vproduktif dan bertanggung jawab.
5)      Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya.
6)      Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi.
7)      Menunjukan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas prilaku, perbuatan, dan pekerjaan.
8)      Menunjukan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
9)      Menunjukan kegemaran membaca dan menulis.
10)  Berkarya secara kreatif, baik individual maupun kelompok
11)  Menjaga kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani.
12)  Menunjukan sikap kompetetif dan sportif untuk meningkatkan ketakwaan dan memperkuat kepribadian.
13)  Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
14)  Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain.
15)  Menunjukan apresiasi karya estetika.
d.      SMA/MAK
1)      Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bermegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2)      Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial, hukum, dan perundangan.
3)      Mengahargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam tatanan global.
4)      Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab.
5)      Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya.
6)      Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi.
7)      Menunjukan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuata, dan pekerjaanya.
8)      Menunjukan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk untuk pemberdayaan diri.
9)      Menunjukan kegemaran membaca dan menulis.
10)  Berkarya secara efektif, baik individual maupun kelompok.
11)  Menjaga kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani.
12)  Menunjukan sikap kompetetip dan sportif untuk meningkatkan ketakwaan dan memperkuat kepribadian.
13)  Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
14)  Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain.
15)  Menunjukan apresiasi terhadap karya estetika.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
a.      SD/MI/SDLB*/Paket A
1)      Mengenal dan menggunakan berbagai informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis dan kreatif.
2)      Menunjukan kemampuan berpikir logisdan kreatif dengan bimbingan guru/pendidik.
3)      Menunjukan rasa keingintahuan yang tinggi.
4)      Menunjukan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
5)      Menunjukan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar.
6)      Menunjukan kterampilam menyimak, bebicara, membaca, menulis, dan berhitung.
7)      Menunjukan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
b.      SMP/MTs/SMPLB*/Paket B
1)      Mencari dan menerapkan informasi secara logis, kritis, dan kreatif.
2)      Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif.
3)      Menunjukan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
4)      Menunjukan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
5)      Mendeskripsikan gejala alam dan sosial.
6)      Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab.
7)      Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.
8)      Menrapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
9)      Memiliki keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa Indoseia dan Inggris sederhana.
10)  Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.
c.       SMA/MA/SMALB*/Paket C
1)      Membangun dan menerapkan informasi, pengetahuan, dan teknologi secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
2)      Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif secara mandiri.
3)      Menunjukan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
4)      Menunjukan sikap komptetif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil terbaik dalam bidang iptek
5)      Menunjukan kemampuan menganakisis dan memecahkan masalah kompleks.
6)      Menunjukan kemampuan menganalisis fenomena alam dan sosial sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing.
7)      Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab.
8)      Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi.
9)      Menunjukan kegemaran membaca dan menulis.
10)  Menunjukan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
11)  Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.
d.      SMK/MAK
1)      Membangun dan menerapkan informasi, pengetahuan, dan teknologi secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
2)      Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif secara mandiri.
3)      Menunjukan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
4)      Menunjukan sikap kompetetif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang iptek.
5)      Menunjukan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.
6)      Menunjukan kemampuan menganalisis fenomena alam dan sosial sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing.
7)      Memanfaatkan lingkungan secra produktif dan bertanggung jawab.
8)      Berkomunikasi dan berinterkasi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi.
9)      Menunjukan kegemaran membaca dan menulis.
10)  Menunjukan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
11)  Menguasai kompetensi program keahlian dan kewiraswataan baik untuk memenuhi tuntutan dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi bsesuai dengan kejuruannya.
Estetika
a.       SD/MI/SDLB*/Paket A
Menunjukan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni budaya lokal.
b.      SMP/MTs/SMPLB*/Paket B
1)      Memanfaatkan lingkungan untuk kegiatan apresiasi seni
2)      Menghargai karya seni, budaya, dan keterampilan sesuai dengan kekhasan lokal.
3)      Menunjukan kegemaran membaca dan menulis karya seni.
c.       SMA/MA/SMALB*/Paket C
1)      Memanfaatkan lingkungan untuk kegiatan apresias seni.
2)      Menunjukan apresiasi terhadap karya seni.
3)      Menunjukan kegemaran membaca dan menulis karya seni.
4)      Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
d.      SMK/MAK
1)      Memanfaatkan lingkungan umtuk kegiatan apresiasi dan kreasi seni.
2)      Menunjukan apresiasi terhadap karya seni.
3)      Menunjukan kegemaran mebaca dan menulis karya seni.
4)      Menghasilkan karya kreatif, bail individual maupun kelompok
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
a.       SD/MI/SDLB*/Paket A
1)      Menunjukan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
2)      Mengenal berbagai innformasi tentan g potensi sumber daya lokal untuk menunjang hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
b.      SMP/MTs/SMPLB*/Paket B
1)      Menunjukan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman dan memanfaatkan waktu luang dengan memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab.
2)      Mencari dan menerapkan berbagai informasi tentang potensi sumber daya lokal untuk menunjang hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
c.       SMA/MA/SMALB*/Paket C
1)      Menjaga kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasamni.
2)      Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan otensi lokal untuk menunjang keshatan, ketahan, dan kebugaran jasmani.
3)      Menunjukan sikap kenopetetif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehata,.
d.      SMK/MAK
1)      Menjaga kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasamni.
2)      Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan otensi lokal untuk menunjang keshatan, ketahan, dan kebugaran jasmani.
3)      Menunjukan sikap kenopetetif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehata

2.      Analisis Kebutuhan Nonakademis
Undang-undang No.   20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 Ayat 1, menjelaskan bahwa daerah dapay mengembangkan kurikulum muatan lokal, yakni kurikulum yang memiliki kekhasan sesuai dengan kebutuhan daerah, serta aspek pengembangan diri yang sesuai dengan minat siswa. Selanjutnya Ayat 2, menjelaskan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsif diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, poensi daerah, dan peserta didik. Atas dasar itulah, dalam proses pengembangan desain pembelajaran sekolah memiliki ruang yang cukup luas untuk mengembangkan isi kurikulum sesuai kebutuhan siswa, ptensi, dan karakteristik daerah masing-masing.
Baik dalam proses pengembangan maupun proses implementasi kurikulum, siswa hatus menjadi tumpuan utama, artinya seluruh proses pengembangan dan implementasi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan siswa. Pada kenyataanya yang dibutuhkan siswa bukan hanya kebutuhan akademis, yakni kebutuhan untuk menguasai konsep dan prinsid seperti yang disajikan dalam bebagai mata pelajaranatau bidang studi, akan tetapi juga kebutuhan nonakademis yakni berbagai kebutuhan yang berkenaan dengan potensi, minat dan bakat setiap siswa sesuai dengan tuntutan masyarakat. Dalam konteks inilah perlu dilaksanakan studi kebutuhan nonakademis setiap siswa.
Tujuan menganalisis kebutuhan nonakademis adalah untuk menjaring berbagai kepentingan dan tuntutan masyarkat yang perlu dikembangkan oleh sekolah untuk dipelajari siswa sesuai dengan minat, bakat, dan potensi yang dimilikinya, agar mereka dapat hidup dimasyarakat. Ada sejumlah prinsip pengembangan kebutuhan nonakademis, yakni:
a.       Tidak bertentangan dengan filsafat atau pandangan hidup bangsa yaitu nilai-nilai Pancasila.
b.      Dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai lokal dimana siswa tinggal.
c.       Dikembangkan untuk meningkatkan nilai-nilai kebagsaan atau untuk menumbuhkembangkan budaya nasional.
d.      Dikembangkan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
e.       Dikembangkan untuk mwningkatkan kemampuan berkompetensi pada masyarakat global.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Need assessment itu adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang kesenjangan yang seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki. Metode Need Assessment dibuat untuk bisa mengukur tingkat kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran siswa dari apa yang diharapkan dan apa yang sudah didapat. Dalam pengukuran kesenjangan seorang analisis harus mampu mengetahui seberapa besar masalah yang dihadapi. Sebagai suatu proses, need assessment terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Secara umum ada dua jenis analisis kebutuhan, yakni analisis kebutuhan akademis dan nonakademis.

B.     Saran
Seorang guru dalam menghadapi berbagai macam peserta didik yang memiliki kebutuhan dalam pembelajaran yang berbeda-beda, maka seorang guru harus mempersiapkan atau melakukan identifikasi kebutuhan belajar peserta didik, hal ini dilakukan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA
Alfarisi, Salman., Iskarimah, Siti., dan Khasan. (2013). Merancang Analisis Kebutuhan (Need Assesment). Makalah Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Stain) Purwokerto.
Hanipah, Sri. (2016). Analisis Kebutuhan dalam Pembelajaran.
Sanjaya. Wina. (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada.
Sanjaya, Wina. (2008). Perencanaan Dan Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana. 
Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Warsita, Bambang. (2011). Modul Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.