PROSEDUR PENGEMBANGAN PERENCANAAN
PEMBELAJARAN YANG BERBASIS KEBUTUHAN
Oleh: Ai Susilawati
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
adalah usaha sadar yang dilakukan secara sistematis dalam mewujudkan suasana
belajar mengajar agar para pebelajar dapat mengembangkan potensi dirinya.
Dengan adanya pendidikan maka seseorang dapat memiliki kecerdasan, akhlak
mulia, kepribadian, kekuatan spiritual, dan keterampilan yang bermanfaat bagi
diri sendiri dan masyarakat. Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang
nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena
itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap
kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap
kegiatan pendidikan. Hal ini berarti proses pendidikan berujung kepada
pembentukan sikap, pengembangan kecerdasan atau intelektual, serta pengembangan
keterampilan anak sesuai kebutuhan (Sanjaya, 2009).
Dalam
melaksanakan proses belajar mengajar terlebih dahulu kita akan ditanya kenapa
manusia itu melakukan proses pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan tujuan dari
orang atau manusia itu sendiri dalam mengikuti proses pembelajaran. Atau dapat
dikatakan ini adalah sebuah kebutuhan yang secara lahiriah maupun batiniah
harus tercapai. Dalam proses pembelajaran peserta didik juga memiliki kebutuhan
agar dalam proses pembelajaran berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang direncanakan.
Tujuan dari peserta didik untuk belajar tentunya untuk menjadi lebih baik
sehingga kelak ilmu yang mereka peroleh melalui proses belajar mengajar dapat
diterapkan dalam kehidupannya. Belajar diartikan sebagi proses perubahan
perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham,
dari kurang terampil menjadi terampil dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan
baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri (Trianto,
2009).
Kebutuhan
dalam proses belajar sangat diperlukan, karena kebutuhan dalam belajar
merupakan dasar yang menggambarkan jarak antara tujuan belajar yang diinginkan
oleh peserta didik atau keadaan belajar yang sebenarnya. Setiap peserta didik
memiliki kebutuhan yang berbeda-beda hal ini perlu diidentifikasi untuk
menentukan kebutuhan mana yang dimiliki peserta didik yang akan menjadi
potensial dan pada akhirnya menjadi kebutuhannya.
Dalam
upaya untuk mencapai proses pembelajaran yang diinginkan oleh peserta didik,
maka peran pendidik (guru) dalam mengajar akan menjadikan suatu faktor penentu
keberhasilan tercapai atau tidaknya suatu tujuan pembelajaran. Seorang pendidik
perlu melakukan identifikasi terlebih dahulu kepada masing-masing peserta
didiknya, hal ini berguna untuk apa yang telah disampaikan oleh pendidik dalam
proses pembelajaran dapat diterima dengan baik oleh peserta didik (Hanipah,
2016). Menurut Sanjaya (2009) dalam kegiatan belajar mengajar, guru memegang peranan
yang sangat penting. Guru menentukan segalanya. Mau diapakan siswanya? apa yang
harus dikuasai siswa? bagaimana cara melihat keberhasilan belajar? semua
tergantung guru. Oleh karena itu pentingnya peran guru, maka biasanya proses
pengajaran hanya akan berlansung manakala ada guru, dan tak mungkin ada proses
pembelajaran tanpa guru.
Menganalisis
kebutuhan merupakan salahsatu kegiatan yang penting dalam mendesain
pembelajaran. Hal ini sesuai dengan tujuan desain yang dikembangkan untuk
membantu menyelesaikan kebutuhan belajar untuk siswa. Mendesain pembelajaran
yang diawali dengan studi kebutuhan memungkinkan hasilnya dapat dimanfaatkan
secara optimal oleh individu.
Dalam
makalah ini akan dibahas tentang prosedur pengembangan perencanaan pembelajaran
yang beerbasis kebutuhan.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian dari analisis kebutuhan?
2. Apa
fungsi dari analisis kebutuhan?
3. Apa
tujuan dari analisis kebutuhan?
4. Apa
peranan dari analisis kebutuhan?
5. Apa
langkah-langkah dalam analisis kebutuhan?
6. Bagaimana
analisis kebutuhan dalam belajar mengajar?
7. Dari
manakah sumber analisis kebutuhan?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui pengertian dari analisis kebutuhan
2. Untuk
mengetahui fungsi dari analisis kebutuhan
3. Untuk
mengetahui tujuan dari analisis kebutuhan
4. Untuk
mengetahui peranan dari analisis kebutuhan
5. Untuk
mengetahui langkah-langkah dalam analisis kebutuhan
6. Untuk
mengetahui analisis kebutuhan dalam belajar mengajar
7. Untuk
mengetahui sumber analisis kebutuhan
D.
Manfaat
Penulisan
1. Dapat
mengetahui pengertian dari analisis kebutuhan
2. Dapat
mengetahui fungsi dari analisis kebutuhan
3. Dapat
mengetahui tujuan dari analisis kebutuhan
4. Dapat
mengetahui peranan dari analisis kebutuhan
5. Dapat
mengetahui langkah-langkah dalam analisis kebutuhan
6. Dapat
mengetahui analisis kebutuhan dalam belajar mengajar
7. Dapat
mengetahui sumber analisis kebutuhan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Analisis Kebutuhan
Dalam
konteks pengembangan kurikulum John Mc-Neil (1985) dalam Sanjaya (2008) mendefinisikan
need assessment sebagai “the process by which one defines educational
needs and decides what their priorities are”. Jadi menurut Mc. Neil, assessment itu adalah proses menentukan
prioritas kebutuhan pendidikan. Selanjutnya ia mendefinisikan tentang kebutuhan
sebagai “ . . . . a condition in which
there is a discrepancy between an acceptable state of learner behavior or
attitude and an observedlearner state”.
Sejalan
dengan pendapat Mc. Neil, Seels dan Glasgow (1990) menjelaskan tentang
pengertian tentang need assessment: “it
means a plan for gathering information about discrepancies and for using that information
to make decisions aout priorities”. Kebutuhan itu pada dasarnya adalah
kesenjangan (discrepancies) antara apa yang telah tersedia dengan apa yang
diharapkan, dan need assessment
adalah proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan
prioritas dari kesenjangan untuk dipecahkan.
Roger
Kaufman & Fenwick W. English (dalam Warsita, 2011) mendefinisikan analisis
kebutuhan sebagai suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan
antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan,
kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas, lalu
memilih hal yang lebih penting untuk diselesaikan masalahnya. Maka analisis
kebutuhan adalah alat atau metode untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan
tindakan atau solusi yang tepat.
Ada
beberapa hal yang melekat pada pengertian need
assessment, seperti ayng dikemukakan baik oleh McNeil maupun oleh Glaslow.
Pertama, need assessment merupakan
suatu proses artinya ada rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan need assessment. Need assessment bukanlah suatu hasil, akan tetapi suatu aktivitas
tertentu dalam upaya mengambil keputusan tertentu. Kedua, kebutuhan itu sendiri
pada hakikatnya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Dengan
demikian maka need assessment itu
adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang kesenjangan yang
seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki.
Kegiatan
melaksanakan need assessment
merupakan suatu kegiatan yang pertama kali harus dilakukan dalam setiap model
desain sistem intruksional. Hal ini menunjukan begitu pentingnya melacak
informasi tentang harapan dan kenyataan, yakni kemampuan yang harus dimiliki
dengan kemampuan yang telah dimiliki.
B.
Fungsi
Analisis Kebutuhan
Metode
Need Assessment dibuat untuk bisa
mengukur tingkat kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran siswa dari apa
yang diharapkan dan apa yang sudah didapat. Dalam pengukuran kesenjangan
seorang analisis harus mampu mengetahui seberapa besar masalah yang dihadapi.
Beberapa
fungsi Need Assessment menurut
Morisson (2001) dalam Alfarisi, Iskarimah dan Khasan (2013) sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi
kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
2. Mengidentifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain
yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
3. Menyajikan
prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
4. Memberikan
data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada
enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan
analisa kebutuhan menurut (Morrison, 2001) dalam Alfarisi, Iskarimah dan Khasan
(2013), yaitu:
1. Kebutuhan
Normatif, membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misalnya, UN,
SNMPTN, dan sebagainya.
2. Kebutuhan
Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain
yang selevel. Misalnya, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
3. Kebutuhan
yang dirasakan, yaitu hasrat atau kinginan yang dimiliki masing-masing peserta
didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara
tingkat keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik
untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara wawancara.
4. Kebutuhan
yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu
diekspresikan dalam tindakan. Misalnya, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
5. Kebutuhan
masa depan, yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa
mendatang. Misalnya, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
6. Kebutuhan
insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang
sangat berpengaruh. Misalnya, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam,
dan sebagainya.
C.
Tujuan
Analisis Kebutuhan
Berikut
merupakan tujuan analisis kebutuhan pembelajaran (Warsita, 2011):
1. Menginventaris
atau mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran.
Identifikasi
masalah merupakan proses membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan yang
diharapkan atau seharusnya. Hasilnya akan menunjukkan kesenjangan antara kedua
keadaan tersebut. Kesenjangan ini disebut dengan kebutuhan. Bila kesenjangan
kedua keadaan tersebut besar, kebutuhan itu perlu diperhatikan atau
diselesaikan. Kebutuhan yang besar dan ditetapkan untuk diatasi itu disebut
masalah. Oleh karena itu, kebutuhan yang lebih kecil mungkin untuk sementara
waktu atau seterusnya diabaikan. Artinya, kebutuhan yang tidak dianggap sebagai
masalah. Hasil akhir dari identifikasi masalah adalah perumusan tujuan
pembelajaran umum.
2. Menyusun
skala prioritas pemecahan masalah
Setelah
anda mengetahui masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi, maka Anda perlu
mencari alternatif pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan skala prioritas
pemecahan masalah. Adapun beberapa pertimbangan yang perlu Anda perhatikan
dalam menilai atau menentukan skala prioritas pemecahan masalah, yaitu: tingkat signifikansi pengaruhnya, luas ruang
lingkupnya, dan pentingnya peranan kesenjangan tersebut terhadap masa depan
lembaga atau program.
3. Merumuskan
tujuan
Hasil
kegiatan analisis kebutuhan pembelajaran yaitu daftar pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang masih belum dikuasi peserta didik dan perlu
dikuasi peserta didik. Dengan kata lain, kegiatan analisis kebutuhan ini akan
menghasilkan kompetensi kompetensi yang masih belum dikuasai dan perlu dikuasai
peserta didik. Kompetensi dasar inilah yang akan menjadi dasar acuan tahap
selanjutnya yaitu perumusan Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau Tujuan Pembelajaran
Umum (TPU).
D.
Peranan
Analisis Kebutuhan
Analisis
kebutuhan merupakan alat yang konstruktif dan positif untuk melakukan
perubahan. Perubahan yang didasarkan atas logika yang bersifat rasional,
perubahan fungsional yang dapat memenuhi kebutuhan kelompok dan individu.
Perubahan ini menunjukkan upaya formal yang sistematis menentukan dan
mendekatkan jarak kesenjangan antara “seperti apa yang ada” dengan “bagaimana
seharusnya”.
Tiga
langkah penting yang dilakukan oleh guru inovatif dalam menyiapkan rencana
pembelajaran dengan memasukkan unsur analisis kebutuhan yang disisipkan di
antara pemilihan materi dengan pemilihan strategi pembelajaran, sebagaimana
contoh bagan berikut:
1. Apa
yang diajarkan?
2. Mengapa
mengajarkan yang kita ajarkan?
3. Bagaimana
mengajarkan?
E.
Langkah-Langkah
Analisis Kebutuhan
Sebagai
suatu proses, need assessment terdiri
atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan
berakhir pada perumusan masalah. Secara lengkap kegiatan need assessment
digambarkan oleh Glaslow dalam komponen-komponen need assessment.
1) Tahapan
Pengumpulan Informasi
Dalam
merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih
dahulu informasi tentang apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar,
kendala-kendala apa yang dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu
terhadap karateristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan
bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam
proses pemecahan masalah.
Gambar 2.1 Komponen Need Assesment
Witkin
(1984) dalam Sanjaya (2008) mendefinisikan analisis kebutuhan, sebagai proses
membuat keputusan dengan memanfaatkan informasi yang dikumpulkan. Ia merumuskan
pengumpulan informasi dalam Sembilan pokok pertanyaan sebagai berikut:
·
Siapa yang membutuhkan need assessment?
·
Mengapa need assessment dibutuhkan?
·
Meliputi apa saja need assessment itu?
·
Untuk siapa kebutuhan ini dirumuskan dan
bagaimana levelnya?
·
Bagaimana jenis dan jumlah data yang
dikumpulkan untuk mencapai tujuan yang dirumuskan?
·
Bagaimana menentukan metode dan sumber
yang digunakan dalam mengumpukan data?
·
Apa yang dapat dilakukan dalam menentukan
orang, dana, dan waktu?
·
Bagaimana produk need assessment digunakan dalam mencapai tujuan, menentukan kendala
dan menentukan sumber?
Untuk lebih mudahnya ada tiga hal yang
dapat diingat dalam proses perencanaan pengumpulan data yaitu:
·
Apa yang anda ingin ketahui?
·
Bagaimana yang anda akan lakukan dalam
proses pengumpulan data itu?
·
Siapa yang dapat dijadikan sumber
informasi dalam proses pengumpulan data itu?
Data-data
yang terkumpul akan bermanfaat dalam menentukan dalam menentukan dan menyusun
langkah-langkah selanjutnya. Yang jelas seorang desainer pembelajaran dalam
proses merancang sistem pembelajaran harus berpijak pada informasi yang terkumpul.
Persoalan
mengenai scope dari need assessment
meliputi tahapan-tahapan pelaksanaan, penentuan sumber, dan penjadwalan.
Persoalan mengenai jenis informasi yang dibutuhkan meliputi fakta atau
pengetahuan, kemampuan atau kompetensi, sikap dan pandangan, serta tingkat
hubungan. Persoalan mengenai teknik pengumpulan data biasa dilakukan dengan
wawancara, studi dokumentasi, oservasi, dan diskusi. Persoalan mengenai
penggunaan sumber dapat dilakukan
melalui sumber manusia, pelayanan, dan teknik laporan.
Seorang
pengumpul data perlu memiliki kemampuan dalam pelaksanaan teknis, misalnya
dalam melakukan wawancara, observasi, serta dalam memanfaatkan sumber yang ada.
Sebaliknya proses pengumpulan data, tidak dilakukan hanya dengan satu teknik
saja melainkan bias dilakukan berbagai jenis teknik pengumpulan data secara
bersamaan. Misalnya ketika seorang pengumpul data melakukan wawancara sekaligus
ia juga melakukan observasi dan mungkin melakukan observasi dan mungkin
melakukan studi dokumentasi.
2) Tahapan
Identifikasi Kesenjangan
Dalam
mengidentifikasi kesenjangan. Kaufman dan English (1979) dalam Sanjaya (2008),
menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational Elements Model
(OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan.
Dua elemen pertama, yaitu input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap
potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output
dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Kategori
kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman seperti
pada gambar dibawah ini
Gambar
2.2 Kategori Kebutuhan
Komponen input meliputi kondisi yang
tersedia pada saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru,
pelajar, kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses
meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola
pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi,
perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku.
Komponen produk meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan,
dan sikap yang dimiliiki, serta kelulusan tes kompetensi.
Komponen output meliputi ijazah
kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen outcome meliputi kecukupan
dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan.
Outcome merupakan hasil akhir yang
diperoleh. Melalui analisis hasil, desainer dapat menentukan sejauh mana hasil
yang diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang
pada hakikatnya menentukan kesenjangan antara harapan dana pa yang terjadi.
Berdasarkan analisis itulah, desainer dapat mendeskripsikan masalah dan
kebutuhan pada setiap komponen yakni input, proses, produk, dan output.
3) Analisis
Performance
Tahap
ketiga dalam proses need assessment
adalah tahap menganalisis performance. Menganalsis performance dilakukan
setelah desainer memahami berbagai informasi dan mengidentifikasi kesenjangan
yang ada. Ketiak kita menemukan adanya kesenjangan, selanjutnya kita
identifikasi kesenjangan mana yang dapat dipecahkan melalui perencanaan
pempelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan dengan cara lain, seperti
melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktr organisasi yang lebih
baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat-alat. Untuk menentukan
semua itu kita perlu memahami faktor penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman
tersebut dapat dilakukan pada saat need assessment berlangsung.
Analisis
performance meliputi beberapa hal diantaranya:
·
Mengidentifikasi guru. Bagaimana kinerja
guru selama ini dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam
pengelolaan pembelajaran? Analisis performance mengenai hal ini perlu
dilakukan, sebaba bagaimanapun lengkap dan tersedianya segala kebutuhan pembelajaran
maka tidak akan bermakna manakala kemampuan guru tidak menunjang. Menganalsis
performance guru tidak terbatas pada penguasaan materi pembelajaran saja, akan
tetapi juga terhadap keterampilan dalam mengelola pembelajaran misalnya
keterampilan dalam pengguaan berbagai strategi pembelajaran, pemanfaatan alat,
bahan dan sumber belajar serta kemampuan melaksanakan evaluasi hasil belajar
siswa.
·
Mengidentifikasi sarana dan kelengkapan
penunjang. Bagaimana kelengkapan sarana dan prasarana yang dapat menunjang
keberhasilan pembelajaran? Diakui, adanya kesenjangan bias terjadi manakala
proses pemmbelajaran tidak ditunjang oleh sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Seorang desainer pembelajaran perlu mengevaluasi dan menganalisis kondisi ini,
sebab bagaimanapun idealnya suatu pemecahan masalah yang diusulkan akhirnya
akan kembali pada tersedia atau tidaknya sarana pendukung. Sistem pendidikan
cenderung akan efektif manakala didukung oleh ketersediaan fasilitas sebagai
sumber pendukung.
·
Mengidentifikasi berbagai kebijakan sekolah.
Bagaimana kebijakan-kebijakan sekolah dalam menunjang keberhasilan proses
pembelajaran? Untuk menunjang keberhasilan, pimpinan sekolah perlu menerbitkan
berbagai kebijakan yang dapat memfasilitasi guru dalam melaksanakan programnya.
Dengan demikian, pimpinan sekolah dituntut untuk terbuka terhadap segala
permasalahan yang dihadapi semua unsur yang berkepentingan dalam pelaksanaan
program sekolah baik terbuka terhadap guru, komite dan orangtua, siswa dan
unsur lainnya.
·
Mengidentifikasi iklim sosial dan iklim
psikologis. Bagaimana suasana di sekolah? Apakah sekolah memiliki iklim yang
baik sehingga dapat mendukung keberhasilan setiap program? Iklim sosial adalah
hubungan yang baik antara semua unsur sekolah, sedangkan iklim yang psikologis
suasana kebersamaan antara semua unsur sekolah.
Disamping
semua unsur tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya
penerapan hukuman dan ganjaran, sistem insentif yang diberikan baik pada guru
maupun pada siswa.
4) Mengidentifikasi
Kendala Beserta Sumber-Sumbernya
Tahap
keempat dalam need assessment adalah
mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam
pelaksanaan suatu program berbagai kendala biasa muncul sehingga dapat
berpengaruh terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi
waktu, fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal dan
organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang
terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru, kepala sekolah, dan
siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsur orang ini adalah unsur filsafat
atau pandangan orang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang
dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya meliputi ketersediaan dan
kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan jumlah
pendanaan beserta pengaturannya.
5) Identifikasi
Karakteristik Siswa
Tahap
kelima dalam need assessment adalah
mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah memecahkan
berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan
dengan siswa adalah bagian dari need
assessment. Identifikasi yang berkaitan dengan siswa diantaranya adalah tentang
usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat sosial ekonomi, latar belakang,
gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik siswa seperti itu, akan
bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan
penggunaan strategi pembelajaran yang dianggap cocok, serta untuk menentukan teknik
evaluasi yan relevan. Hal ini seperti yang diungkapkan McGowan dan Clark
(1985): “You can take this information
about the learner into acoun when selecting intructioanl strategies”.
Strategi pembelajaran yang digunakan akan berbeda untuk sisiwa yang kemampuan
berpikirnya lebih dibandingkan untuk siswa yan memiliki kemampuan berpikir
rendah.
6) Identifikasi
Tujuan
Kaufman
(1983) dalam Sanjaya (2008) mendefinisikan need
assessment sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumnetasi, dan
menjustifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan
melalui penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi yang
dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai.
Oleh karena itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salahsatu
kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assessment.
Tidak
semua kebutuhan menjadi tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer
perlu menetapkan kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggpa mendesak untuk dipecahkan
sesuai dengan kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment.
Terdapat
beberapa teknik dalam menentukan skala prioritas dari data yang terkumpul.
Misalnya teknik perangkaian meliputi Teknik Delphi, Fokus Group Discussion,
Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini digunakan untuk menjaring berbagai
tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian para ahli yang terlibat pada
diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan benar-benar hasil suatu studi yang
dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan.
7) Menentukan
Permasalahan
Tahap
akhir dalam proses analisis masalah adalah menuliskan pernyataan masalah
sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain intruksional. Penulisan masalah
pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang
ditemukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang
biasanya tidak lebih dari satu-dua paragrap.
Salahsatu
format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang
dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUPS adalah
merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan
dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS
merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan
yang harus dipecahkan.
Terdapat
lima pokok pertanyaan yang harus dijawab manakala kita menentukan permasalahan
dengan menggunakan teknik RUPS, yakni:
a. Siapa
yang menjadi sasaran permasalahan, apakah anda sendiri, team teaching, kelompok
lain? Atau masyarakat?
b. Siapa
dan apa faktor-faktor penyebab permasalahan, apakah karena faktor organisasi?
Lemahnya bahan dan alat pendukung?
c. Macam
apa permasalahan yang dihadapi, apakah karena keidaksepakatan tentang tujuan?
Apakah karena lemahnya kemampuan? Tidak adanya sumber yang memadai? Lemahnya
komunikasi? Adanya konflik dalam membuat keputusan?
d. Apakah
tujuan pengembangan itu, apa yang akan berbeda manakala tujuan telah behasil
dicapai? Siapa dan akan mengerjakan apa? Apa target yang harus dicapai?
Selain
tahapan analisis kebutuhan Glasgow ada 4 tahap dalam melakukan analisis
kebutuhan berdasarkan (Morison, 2011) menyebutkan langkah-langkah analisis
kebutuhan sebagai berikut:
a) Perencanaan
Pada
saat perencanaan yang perlu dilakukan adalah klasifikasi siswa siapa yang akan
terlibat dalam kegiatan analisis kebutuhan.
b) Pengumpulan
Data
Pengumpulan
data dilaksanakan sesuai dengan perencaan yang telah ditentukan, pada saat
pengumpulan data peneliti perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel.
c) Analisa
Data
Setelah
semua data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan analisa data
berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah dilakukan.
d) Membuat
Laporan Akhir
Langkah
terakhir dalam analisis kebutuhan adalah membuat laporan akhir terkait dengan
hasil penelitian yang dilaksanakan.
F.
Analisis
Kebutuhan Dalam Belajar Mengajar
1. Ketika
guru diserahi tugas mengajar dan akan mulai melaksanakan tugas, seorang guru
harus memusatkan perhatian ke arah pencapaian tujuan, lalu memperhatikan materi
yang menunjang tujuan serta menentukan cara penyampainnya.
2. Setelah
terpilih materi yang akan diajarkan, guru menelaah kembali materi terpilih
untuk dicocokkan dengan kebutuhan siswa. Inilah inti perbedaan antara
perencanaan pengajaran tradisional dengan perencanaan yang memikirkan kebutuhan
siswa.Dalam pendidikan inovatif, peserta didik merupakan focus dari seluruh
proses kegiatan.
3. Guru
yakin terhadap materi, lalu menentukan strategi yang tepat untuk penyampaian
materi tersebut, meliputi: pemilihan cara atau metode, pengelolaan kelas dan
media yang digunakan untuk mendukung penyampaian.
4. Untuk
dapat melaksanakan tugas pendidikan baik guru seyogyanya harus paham tentang
“alat” dan “tujuan”. Dengan memahami tujuan, maka akan tepat dalam memilih
alternative alat untuk mencapainya. Gagal mengidentifikasi “apa” yang akan
dicapai sebelum menentukan “bagaimana” mencapainya dengan resiko sesedikit
mungkin, dengan biaya sehemat mungkin, akan gagal pula mencapai sukses secara
optimal. Analisis kebutuhan merupakan seperangkat alat dan teknik formal, serta
cara untuk mencermati dunia secara lebih ilmiah karena memandang alat dan
tujuan dalam satu perspektif kesatuan yang bermakna.
G.
Sumber
Analisis Kebutuhan
Seperti
yang telah dijelaskan desain intruksional berorientasi pencapaian kompetensi,
adalah sistem desain yang dikembangkan untuk mendukung keberhasilan kurikulum
yang berorientasi pada kompetensi, seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Secara umum ada dua jenis analisis kebutuhan, yakni analisis kebutuhan
akademis dan nonakademis.
1. Analisis
Kebutuhan Akademis
Analisis
kebutuhan akademis adalah kompeetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai
dengan kurikulum yang berlaku yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikakn
(KTSP). Kompetensi yang harus dicapai oleh KTSP tercermin dari Standar Isi dan
Standar Kompetensi Lulusan (SI dan SKL) sebagai standar kemmapuaun minimal yang
harus dicapai.
Dalam
peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentnag Standar Nasional Pendidikan
Bab V Pasal 26 dijelakan Standar Kompeensi Lulusan pada jenjang pendidikan
dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan
lebih lanjut.
Standar
kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar
kompetensi lulusan pada satuan pendidikann menengah kejuruan bertujuan untuk
meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai
dengan kejuruannya.
Standar
kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan
peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki
pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan,
mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi dan seni, yang bermanfaat bagi
kemanusiaan.
Selanjutnya
standar kompetensi lulusan seperti yang dittapkan peraturan pemerintah
tersebut, dijabarkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.23 Tahun
2006 tentang Standar Kompetenis Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) sebagai
berikut:
a. SKL
SD/MI/SDLB*/Paket A
1) Menjalankan
ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak.
2) Mengenal
kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
3) Memahami
aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
4) Menghargai
keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan social ekonomi dilingkungan
sekitarnya.
5) Menggunakan
informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif.
6) Menunjukan
kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik.
7) Menunjukan
rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya.
8) Menunjukan
kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
9) Menunjukan
kemampuan mengenali gejala alam dan sosial dilingkungan sekitar.
10) Menunjukan
kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia.
11) Menunjukan
kemampuan untuk meakukan kegiatan seni dan budaya lokal.
12) Menunujukan
kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan
13) Menunjukan
kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
14) Berkomunikasi
secara jelas dan santun.
15) Bekerjasama
dalam kelompok, tolong menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan
keluarga dan tema sebaya.
16) Menunjukan
kegemaran membaca dan menulis.
17) Menunjukan
keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung.
b. SMP.MTs/SMPLB*/Paket
B
1) Mengamalkan
ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.
2) Memahami
kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
3) Menunjukan
sikap percaya diri.
4) Mematuhi
aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.
5) Menghargai
keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup
nasional.
6) Mencari
dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara
logis, kritis, dan kreatif.
7) Menunjukan
kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
8) Menunjukan
kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
9) Menunkukan
kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
10) Mendeskripsikan
gejala alam dan sosial.
11) Memanfaatka
lingkungan secara bertanggung jawab.
12) Menerapkan
nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
demi terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
13) Menghargai
karya seni dan budaya nasional.
14) Menghargai
tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.
15) Mennerapkan
hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
16) Berkomunikasi
dan berinteraksi secara efektif dan santun.
17) Memahami
hak dan kewajiban diri dan oranglain dalam pergaulan di masyarakat.
18) Menghargai
adanya perbedaan pendapat.
19) Menunjukan
kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana.
20) Menunjukan
keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa Indonesia
dan Bahasa inggris sederhana.
21) Menguasai
pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.
c. SMA/MA/SMALB*/Paket
C
1) Berprilaku
sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2) Mengembangkan
diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki
kekurangannya.
3) Menunujukan
sikap percaya diri dan bertanggung jawa atas perilaku, perbuatan, dan
pekerjaannya.
4) Berpartisipasi
dalam penegakan aturan-aturan sosial.
5) Menghargai
kberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup
global.
6) Membangun
dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kratif,
inovatif.
7) Menunjukan
kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, dalam pengambilan
keputusan.
8) Menunujukan
kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
9) Menunujukan
sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
10) Menunujukan
kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial.
11) Menunjukan
kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.
12) Memanfaatkan
lingkungan secara produktif dan tanggung jawab.
13) Berpartisipasi
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
14) Mengekspresikan
diri melalui kegiatan seni dan budaya.
15) Mengapresiasi
karya seni dan budaya.
16) Menghasilkan
karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
17) Menjaga
kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan.
18) Berkomunikasi
lisan dan tulisan secara efektif dan santun.
19) Memahami
hak dan kewajiban diri dan oranglain dalam pergaulan di masyarakat.
20) Menghargai
adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap oranglain.
21) Menunjukan
keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam Bahasa Indonesia
dan inggris.
22) Menguasai
pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.
d. SMK/MAK
1) Berperilaku
sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2) Mengembangkan
diri secar optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki
kekurangannya.
3) Menunjukan
sikap percaya diri dan bertanggng jawab atas perilaku, perbauatn, dan
pekerjaannya.
4) Berpartisipasi
dalam penegakan aturan-aturan sosial.
5) Menghargai
keberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup
global.
6) Membangun
dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
7) Menunjukan
kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan
keputusan.
8) Menunjukan
kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk memberdayakan diri.
9) Menunjukan
sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
10) Menunjukan
kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.
11) Menunjukan
kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial.
12) Memanfaatkan
lingkungan secara produktif dan bertanggungjawab.
13) Berpartisipasi
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
14) Mengekspresikan
diri melalui kegiatan seni dan budaya.
15) Mengapresiasi
karya seni dan budaya.
16) Menghasilkan
karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
17) Menjaga
kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan lingkungan.
18) Berkomunikasi
lisan dan tulisan secara efektif dan santun
19) Memahami
hak dan kewajiban diri dan oranglain dalam pergaulan di masyarakat.
20) Menghargai
adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap oranglain.
21) Menunjukan
keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam Bahasa Indonesia
dan inggris.
22) Menunjukan
keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis.
23) Menguasai
kompetensi program keahlian dan kewiraswastaan bak untuk memenuhi tuntutan
dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi sesuai dengan kejuruannya.
Selannjutnya
sebaga standar isi, dijabarkan pada Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran
(SK-KMP) dikembangkan berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/atau kegiatan
setiap kelompok maa pelajaran, sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 22 tahun 2006 sebagai berikut:
Agama dan akhlak Mulia
a. Untuk
SD/MI/SDLB*/Paket A
1) Menjalankan
ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak
2) Menunjukan
sikap jujur dan adil.
3) Mengenal
keberagaman agama, budaya, suku, rasm dan golongan sosial ekonomi diliingkungan
sekitar.
4) Berkomunikasi
secara santun yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
5) Menunjukan
kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang sesuai
dengan tuntutan agamanya.
6) Menunjukan
kecintaan dan kepedulian terhadap sesame manusia dan lingkungan sebagai makhluk
ciptaan Tuhan.
b. SMP/MTs/SMPLB*Paket
B
1) Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai
dengan tahap perkembangan remaja.
2) Menerapkan
nilai-nilai kejujuran dan keadilan.
3) Memahami
keberagaman agama, budaya, suku, ras dan golongan sosial ekonomi.
4) Berkomunikasi
dan berinteraksi dengan efektif dan santun yang mencerminkan harkat dan
martabatnya sebagai mahluk Tuhan.
5) Menerapkan
hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntunan
agamanya.
6) Memanfaatkan
lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab.
7) Mengahrgai
perbedaan pendapat dalam mejalankan ajaran agamnya.
c. SMA/MA/SMALB*/Paket
C
1) Berprilaku
sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2) Menghargai
keberagaman agama, bangsa, suku, ras, golongan sosial, dan budaya dalam tatanan
global.
3) Berpartisipasi
dalam penegakan aturan-aturan sosial.
4) Memahami
hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan dimasyarakat.
5) Menghargai
adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain.
6) Berkomunikasi
dan berinteraksi secara efkektif dan santun melalui berbagai cara termasuk
pemanfaatan teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabanya sebagai
makhluk Tuhan.
7) Menjaga
kebersihan, kesehatan, ketahanan dan kebugaran jasmani dalam kehidupan sesuai
dengan tuntunan agama.
8) Memanfaatkan
lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab.
d. SMK/MAK
1) Berprilaku
sesuai dengan ajran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2) Menghargai
keberagaman agama, bangsa, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam
tatanan global.
3) Berpartisipasi
dalam penegakan aturan-aturan sosial.
4) Memahahi
hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
5) Menghargai
adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadapat orang lain.
6) Berkomunikasi
dan beinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk
pemanfaatan teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabatnya
sebagai makhluk Tuhan.
7) Menjaga
kebersihan, kesehatan, ketahanan dan kebugaran jasmani dalam kehidupan sesuai
dengan tuntunan agama.
8) Pemanfaatan
lingkungan sebagai mkhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab.
Kewarganegaraan dan
Kepribadian
a. SD/MI/SDLB*/Paket
A
1) Menunjukan
kecintaan dan kebanggan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia.
2) Smematuhi
aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
3) Menghargai
keberagaman agama, budaya, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan
sekitarnya.
4) Menunjukan
kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
5) Mengenal
kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
6) Menunjukan
rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadaro potensinya.
7) Berkomunikasi
secara santun.
8) Menunjukan
kegemaran membaca.
9) Menunjukan
kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
10) Bekerjasama
dalam kelompok, tolong- menolong, dan menjaga diri sendriri dalam lingkungan
keluarga dan teman sebaya.
11) Menunjukan
kemampuan mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya lokal.
b. SMP/MTs/SMPLB*/Paket
B
1) Menerapkan
kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi
terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2) Mematui
aturan-aturan sosial, hokum, dan perundangan.
3) Menghargai
keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam
lingkungan nasional.
4) Memanfaatkan
lingkungan secara tanggung jawab.
5) Memahami
kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
6) Berkomunikasi
dan berinteraksi secara efektif dan santun.
7) Menunjukan
sikap percaya diri.
8) Menunjukan
kegemaran membaca dan menulis.
9) Menunjukan
kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
10) Menghargai
tugas pekerjaan dan memilki kemampuan untuk berkarya.
11) Menunjukan
kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, dan aman dalm kehidupan sehari-hari.
12) Memahami
hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
13) Menghargai
adnya perbedaan pendapat.
14) Menghargai
karya seni dan budaya.
c. SMA/MA/SMALB*/Paket
C
1) Berpartisipasi
dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2) Berpartisipasi
dalam penegakan aturan-aturan sosial, hokum, dan perundangan.
3) Menghargai
kebergaman agama, budaya, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam
tatanan global.
4) Memanfaatkan
lingkungan secara vproduktif dan bertanggung jawab.
5) Mengembangkan
diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki
kekurangannya.
6) Berkomunikasi
dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk
pemanfaatan teknologi informasi.
7) Menunjukan
sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas prilaku, perbuatan, dan
pekerjaan.
8) Menunjukan
kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
9) Menunjukan
kegemaran membaca dan menulis.
10) Berkarya
secara kreatif, baik individual maupun kelompok
11) Menjaga
kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani.
12) Menunjukan
sikap kompetetif dan sportif untuk meningkatkan ketakwaan dan memperkuat
kepribadian.
13) Memahami
hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
14) Menghargai
adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain.
15) Menunjukan
apresiasi karya estetika.
d. SMA/MAK
1) Berpartisipasi
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bermegara secara demokratis dalam
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2) Berpartisipasi
dalam penegakan aturan-aturan sosial, hukum, dan perundangan.
3) Mengahargai
keberagaman agama, budaya, suku, ras, golongan sosial ekonomi, dan budaya dalam
tatanan global.
4) Memanfaatkan
lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab.
5) Mengembangkan
diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki
kekurangannya.
6) Berkomunikasi
dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk
pemanfaatan teknologi informasi.
7) Menunjukan
sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuata, dan
pekerjaanya.
8) Menunjukan
kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk untuk pemberdayaan diri.
9) Menunjukan
kegemaran membaca dan menulis.
10) Berkarya
secara efektif, baik individual maupun kelompok.
11) Menjaga
kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani.
12) Menunjukan
sikap kompetetip dan sportif untuk meningkatkan ketakwaan dan memperkuat
kepribadian.
13) Memahami
hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
14) Menghargai
adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain.
15) Menunjukan
apresiasi terhadap karya estetika.
Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi
a.
SD/MI/SDLB*/Paket
A
1) Mengenal
dan menggunakan berbagai informasi tentang lingkungan sekitar secara logis,
kritis dan kreatif.
2) Menunjukan
kemampuan berpikir logisdan kreatif dengan bimbingan guru/pendidik.
3) Menunjukan
rasa keingintahuan yang tinggi.
4) Menunjukan
kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
5) Menunjukan
kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar.
6) Menunjukan
kterampilam menyimak, bebicara, membaca, menulis, dan berhitung.
7) Menunjukan
kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
b. SMP/MTs/SMPLB*/Paket
B
1) Mencari
dan menerapkan informasi secara logis, kritis, dan kreatif.
2) Menunjukan
kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif.
3) Menunjukan
kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
4) Menunjukan
kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
5) Mendeskripsikan
gejala alam dan sosial.
6) Memanfaatkan
lingkungan secara bertanggung jawab.
7) Menghargai
tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.
8) Menrapkan
hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
9) Memiliki
keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa Indoseia
dan Inggris sederhana.
10) Menguasai
pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.
c. SMA/MA/SMALB*/Paket
C
1) Membangun
dan menerapkan informasi, pengetahuan, dan teknologi secara logis, kritis,
kreatif, dan inovatif.
2) Menunjukan
kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif secara mandiri.
3) Menunjukan
kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
4) Menunjukan
sikap komptetif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil terbaik dalam
bidang iptek
5) Menunjukan
kemampuan menganakisis dan memecahkan masalah kompleks.
6) Menunjukan
kemampuan menganalisis fenomena alam dan sosial sesuai dengan kekhasan daerah
masing-masing.
7) Memanfaatkan
lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab.
8) Berkomunikasi
dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk
pemanfaatan teknologi informasi.
9) Menunjukan
kegemaran membaca dan menulis.
10) Menunjukan
keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam Bahasa Indonesia
dan Inggris.
11) Menguasai
pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi.
d. SMK/MAK
1) Membangun
dan menerapkan informasi, pengetahuan, dan teknologi secara logis, kritis,
kreatif, dan inovatif.
2) Menunjukan
kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif secara mandiri.
3) Menunjukan
kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri.
4) Menunjukan
sikap kompetetif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil yang terbaik
dalam bidang iptek.
5) Menunjukan
kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks.
6) Menunjukan
kemampuan menganalisis fenomena alam dan sosial sesuai dengan kekhasan daerah
masing-masing.
7) Memanfaatkan
lingkungan secra produktif dan bertanggung jawab.
8) Berkomunikasi
dan berinterkasi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk
pemanfaatan teknologi informasi.
9) Menunjukan
kegemaran membaca dan menulis.
10) Menunjukan
keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam Bahasa Indonesia
dan Inggris.
11) Menguasai
kompetensi program keahlian dan kewiraswataan baik untuk memenuhi tuntutan
dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi bsesuai dengan kejuruannya.
Estetika
a. SD/MI/SDLB*/Paket
A
Menunjukan
kemampuan untuk melakukan kegiatan seni budaya lokal.
b. SMP/MTs/SMPLB*/Paket
B
1) Memanfaatkan
lingkungan untuk kegiatan apresiasi seni
2) Menghargai
karya seni, budaya, dan keterampilan sesuai dengan kekhasan lokal.
3) Menunjukan
kegemaran membaca dan menulis karya seni.
c. SMA/MA/SMALB*/Paket
C
1) Memanfaatkan
lingkungan untuk kegiatan apresias seni.
2) Menunjukan
apresiasi terhadap karya seni.
3) Menunjukan
kegemaran membaca dan menulis karya seni.
4) Menghasilkan
karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
d. SMK/MAK
1) Memanfaatkan
lingkungan umtuk kegiatan apresiasi dan kreasi seni.
2) Menunjukan
apresiasi terhadap karya seni.
3) Menunjukan
kegemaran mebaca dan menulis karya seni.
4) Menghasilkan
karya kreatif, bail individual maupun kelompok
Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan
a. SD/MI/SDLB*/Paket
A
1) Menunjukan
kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
2) Mengenal
berbagai innformasi tentan g potensi sumber daya lokal untuk menunjang hidup
bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
b. SMP/MTs/SMPLB*/Paket
B
1) Menunjukan
kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman dan memanfaatkan waktu luang dengan
memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab.
2) Mencari
dan menerapkan berbagai informasi tentang potensi sumber daya lokal untuk
menunjang hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang.
c. SMA/MA/SMALB*/Paket
C
1) Menjaga
kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasamni.
2) Membangun
dan menerapkan informasi dan pengetahuan otensi lokal untuk menunjang keshatan,
ketahan, dan kebugaran jasmani.
3) Menunjukan
sikap kenopetetif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang
pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehata,.
d. SMK/MAK
1) Menjaga
kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasamni.
2) Membangun
dan menerapkan informasi dan pengetahuan otensi lokal untuk menunjang keshatan,
ketahan, dan kebugaran jasmani.
3) Menunjukan
sikap kenopetetif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang
pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehata
2. Analisis
Kebutuhan Nonakademis
Undang-undang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 36 Ayat 1, menjelaskan bahwa daerah dapay
mengembangkan kurikulum muatan lokal, yakni kurikulum yang memiliki kekhasan
sesuai dengan kebutuhan daerah, serta aspek pengembangan diri yang sesuai
dengan minat siswa. Selanjutnya Ayat 2, menjelaskan bahwa kurikulum pada semua
jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsif diversifikasi sesuai
dengan satuan pendidikan, poensi daerah, dan peserta didik. Atas dasar itulah,
dalam proses pengembangan desain pembelajaran sekolah memiliki ruang yang cukup
luas untuk mengembangkan isi kurikulum sesuai kebutuhan siswa, ptensi, dan
karakteristik daerah masing-masing.
Baik
dalam proses pengembangan maupun proses implementasi kurikulum, siswa hatus
menjadi tumpuan utama, artinya seluruh proses pengembangan dan implementasi
diarahkan untuk memenuhi kebutuhan siswa. Pada kenyataanya yang dibutuhkan
siswa bukan hanya kebutuhan akademis, yakni kebutuhan untuk menguasai konsep
dan prinsid seperti yang disajikan dalam bebagai mata pelajaranatau bidang
studi, akan tetapi juga kebutuhan nonakademis yakni berbagai kebutuhan yang
berkenaan dengan potensi, minat dan bakat setiap siswa sesuai dengan tuntutan
masyarakat. Dalam konteks inilah perlu dilaksanakan studi kebutuhan nonakademis
setiap siswa.
Tujuan
menganalisis kebutuhan nonakademis adalah untuk menjaring berbagai kepentingan
dan tuntutan masyarkat yang perlu dikembangkan oleh sekolah untuk dipelajari
siswa sesuai dengan minat, bakat, dan potensi yang dimilikinya, agar mereka
dapat hidup dimasyarakat. Ada sejumlah prinsip pengembangan kebutuhan
nonakademis, yakni:
a. Tidak
bertentangan dengan filsafat atau pandangan hidup bangsa yaitu nilai-nilai
Pancasila.
b. Dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai lokal dimana siswa tinggal.
c. Dikembangkan
untuk meningkatkan nilai-nilai kebagsaan atau untuk menumbuhkembangkan budaya
nasional.
d. Dikembangkan
sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
e. Dikembangkan
untuk mwningkatkan kemampuan berkompetensi pada masyarakat global.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Need assessment
itu adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang kesenjangan yang
seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki. Metode Need Assessment dibuat untuk bisa
mengukur tingkat kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran siswa dari apa
yang diharapkan dan apa yang sudah didapat. Dalam pengukuran kesenjangan
seorang analisis harus mampu mengetahui seberapa besar masalah yang dihadapi. Sebagai
suatu proses, need assessment terdiri
atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan
berakhir pada perumusan masalah. Secara umum ada dua jenis analisis kebutuhan,
yakni analisis kebutuhan akademis dan nonakademis.
B.
Saran
Seorang
guru dalam menghadapi berbagai macam peserta didik yang memiliki kebutuhan
dalam pembelajaran yang berbeda-beda, maka seorang guru harus mempersiapkan
atau melakukan identifikasi kebutuhan belajar peserta didik, hal ini dilakukan
agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Alfarisi, Salman., Iskarimah, Siti., dan Khasan.
(2013). Merancang Analisis Kebutuhan
(Need Assesment). Makalah Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (Stain) Purwokerto.
Hanipah, Sri. (2016). Analisis Kebutuhan dalam
Pembelajaran.
Sanjaya. Wina. (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Prenada.
Sanjaya, Wina. (2008). Perencanaan Dan Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif
Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Warsita, Bambang. (2011). Modul Analisis Kebutuhan
Sistem Pembelajaran, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.