Rabu, 26 Januari 2022

Inovasi Pembelajaran


Innovation (inovasi) adalah suatu ide, barang, kejadian, atau metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang, baik itu berupa hasil diskoveri maupun invensi. Tujuan diadakan inovasi adalah untuk memecahkan suatu masalah tertentu (Kristiawan, dkk. 2018:3). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa inovasi bersifat subyektif dan spesifik. Berikut ini beberapa pengertian inovasi menurut para ahli dalam Kristiawan, dkk. (2018:3-6).

1.      An innovation is an idea for accomplishing some recognition social and in a new way or for a means of accomplishing some social (Elly, 1982, Seminar on Educational Change). Artinya sebuah inovasi adalah ide untuk mendapatkan pengakuan sosial dan cara baru atau sarana untuk mencapai pengakuan sosial.

2.      An innovation is any idea, practice, or mate artifact perceived to be new by the relevant unit of adopt. The innovation is the change object. A change is the alter a part of the actor in response to a situation. The requirement of the situation often involve to a new requirement is aninventive process producing an invention. However, all innovations, since not everything an individual or formal or informal group adopt is perceived as new (Zaltman, Duncan, 1977).

 

Artinya, sebuah inovasi adalah ide, praktik, atau artefak yang dianggap baru oleh unit yang relevan. Inovasi adalah perubahan obyek. Perubahan adalah bagian dari bentuk tanggapan terhadap situasi. Dalam suatu situasi memerlukan proses kreatif untuk menghasilkan sebuah penemuan. Namun, tidak semua hal pembaharuan itu disebut inovasi, karena tidak semua kelompok individu baik kelompok formal maupun informal menganggap suatu hal tersebut merupakan hal yang baru.

3.      The term innovation is usually employed in three different context. In one context it is synonymeous with invention; that is, it refers to a creative process whereby two or more existing concepts or entities are combined in some novel way to produce a configuration not previously known by the person involved. A person or organization performing this type of activity is usually said to be innovative. Most of the literature on creativity treats the term innovation in this fashion (Zaltman, Duncan, Holbek. 1973).

 

Artinya, inovasi biasanya digunakan dalam tiga konteks berbeda. Dalam satu konteks sama dengan penemuan, yakni mengacu pada proses kreatif dimana dua atau lebih konsep yang ada digabungkan dalam beberapa cara baru untuk menghasilkan suatu konfigurasi yang belum diketahui oleh orang. Seseorang atau kelompok orang yang melakukan hal ini biasa disebut inovatif.

4.      Innovation is the creative selection, organization, and utilization of human and material resources in new and unique ways which will result in the attainment of a higher level of achievement for the defined goals and objectives (Huberman, 1973). Artinya, inovasi adalah proses kreatif dalam memilih, mengorganisasi, dan memanfaatkan sumber daya manusia dan material dalam cara-cara baru atau dan unik yang akan menghasilkan pencapaian lebih tinggi untuk tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

5.      Innovation is a species of the genus “change”. Generally speaking it seems useful to define an innovation as a deliberate, novel, specific change, which is though to be more efficacious in accomplishing the goal of system. From the point of view of this book (innovation in education), it seem helpful to consider innovations as being willed and planned for rather than as accruing haphazardly (Miles, 1964).

 

Artinya, inovasi adalah spesies dari genus “perubahan”. Secara umum tampaknya berguna untuk mendefinisikan inovasi sebagai sesuatu yang disengaja, baru, dan perubahan spesifik yang lebih berguna dalam pencapaian suatu tujuan. Inovasi tampaknya membantu untuk mempertimbangkan inovasi tersebut sebagai sesuatu yang direncanakan dengan matang, sehingga bukan diperoleh dengan cara yang sembarangan.

6.      An innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption. It matters little, so far as human behavior is concerned, whether or not an idea is “objectively” new as measured by the lapse of time since its first use or discovery. The perceived newness of the idea for the individual determines his or her reaction to it. If the idea seems new to the individual, it is an innovation (Rogers, 1983).

 

Artinya, sebuah inovasi adalah suatu ide, praktik, atau obyek yang dianggap baru oleh individu atau kelompok individu. Tidak penting, sejauh perilaku manusia yang bersangkutan, apakah ide itu “obyektif” baru yang diukur dengan selang waktu sejak penggunaan pertama atau penemuan. Kebaharuan dirasakan dari sejauh mana reaksi dari individu terhadap ide baru tersebut. Jika ide tersebut tampak baru bagi individu tersebut, maka itulah yang disebut inovasi.

Dari beberapa pengertian, dapat diketahui bahwa tidak terjadi perbedaan yang mendasar tentang definisi inovasi antara satu dengan yang lain. Semua pendapat menyatakan bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara dan barang-barang buatan manusia yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau kelompok orang. Sesuatu yang baru itu dapat berupa hasil diskoveri atau invensi yang dimanfaatkan dalam mencapai tujuan tertentu dan untuk memecahkan masalah tertentu.

Inovasi pembelajaran sendiri yaitu proses belajar  pada peserta didik yang dirancang, dikembangkan, dan dikelola secara kreatif, dinamis, dengan menerapkan pendekatan multi ke arah yang lebih baik, untuk menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang kondusif. Selain itu, inovasi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai metode atau kiat seorang guru dalam membelajarkan peserta didik dengan berbagai tujuan tertentu. Inovasi pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dan harus dimiliki atau dilakukan oleh guru. Hal ini disebabkan karena pembelajaran akan lebih hidup dan bermakna. Kemauan guru untuk mencoba menemukan, menggali, dan mencari berbagai terobosan, pendekatan, metode, dan strategi pembelajaran merupakan salah satu penunjang akan munculnya berbagai inovasi-inovasi baru. Tanpa didukung dengan kemauan dari guru untuk selalu berinovasi dalam pembelajarannya, maka pembelajaran akan menjenuhkan bagi peserta didik. Di samping itu, guru tidak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Mengingat sangat pentingnya inovasi, maka inovasi menjadi sesuatu yang harus dicoba untuk dilakukan oleh setiap guru. Oleh karena itu, seorang guru harus selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran.

Dalam hal ini inovasi yang dimaksud adalah penggunaan media pembelajaran sebagai penunjang dalam keberhasilan proses pembelajaran. Pemakaian media  pembelajaran dalam   proses   belajar   mengajar   dapat   membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan pembelajaran, serta penyampaian pesan dan isi pelajaran sehingga dapat membantu peserta didik  meningkatkan   pemahaman   karena   menyajikan informasi secara menarik dan terpercaya. Selain itu, media pembelajaran   juga   memudahkan   penafsiran   data   dan memadatkan informasi. Hal ini memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan proses dan hasil belajar (Arsyad, 2016).

Media pembelajaran merupakan komponen pembelajaran yang meliputi bahan dan peralatan. Dengan masuknya berbagai teori dan teknologi, media pembelajaran terus mengalami dan tampil dalam berbagai jenis. Beberapa kegunaan praktis dari penggunaan media pembelajaran adalah dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Selain itu, media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian peserta didik sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara peserta didik dan lingkungannya, dan kemungkinan peserta didik untuk belajar mandiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Media pembelajaran juga dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu. Selain itu, metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga peserta didik tidak bosan. Peran media pembelajaran selanjutnya adalah membuat peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar, dan aktivitas lainnnya seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Arsyad, A. (2016). Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kristiawan, M,. dkk. (2018). Inovasi Pendidikan. Ponorogo: Wade Group.


Sabtu, 22 Januari 2022

Teknologi Pendidikan

Dalam kehidupan saat ini banyak hal yang dapat dilakukan dengan mudah dengan adanya teknologi. Pada dasarnya, teknologi itu sudah diterapkan dan diaplikasikan oleh manusia sejak zaman dulu karena teknologi itu berkaitan dengan sistem atau cara untuk memecahkan persoalan tertentu yang dihadapi oleh manusia meski dalam bentuknya yang sederhana (Haryanto, 2015: 5-6).  “Teknologi sebagai sebuah aktivitas manusia yang memiliki nilai yang terhubungkan dengan pengaruh sosial budaya dan lingkungan dalam hal konseptualisasinya” MCGinn (1978:179-180) dalam Haryanto (2015:7). Perkembangan teknologi yang sangat pesat telah dimanfaatkan dalam dunia pendidikan.

Menurut Darmawan (2013) pada hakikatnya alat-alat salah satunya seperti komputer tidak dibuat khusus untuk keperluan pendidikan, akan tetapi dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan bahkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan proses pendidikan. Pembangunan pedidikan berbasis teknologi setidaknya memberikan dua keuntungan. Pertama, sebagai pendorong komunitas pendidikan (termasuk guru) untuk lebih apresiatif dan proaktif dalam maksimalisasi potensi pendidikan. Kedua, memberikan kesempatan luas kepada peserta didik dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada, yang dapat diperoleh dari sumber-sumber yang tidak terbatas (Darmawan, 2017:5).

Di bidang pendidikan, peran guru untuk mendidik peserta didik menjadi manusia  yang selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya sangat penting dalam menentukan perjalanan generasi bangsa ini. Guru dituntut menjadi pendidik yang bisa menjembatani kepentingan-kepentingan itu. Tentu saja melalui usaha-usaha nyata yang bisa diterapkan dalam mendidik peserta didiknya (Darmawan, 2017:8). Salah satu usaha tersebut adalah dengan menggunakan dan memanfaatkan teknologi pendidikan. 

Menurut Nasution (1995) dalam Darmawan (2013:51) mengungkapkan bahwa teknologi pendidikan adalah pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik, dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar. Oleh karena itu, teknologi pendidikan berkenaan baik dengan software maupun hardware. Peran software antara lain adalah menganalisis dan mendesain urutan atau langkah-langkah belajar berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan metode penyajian yang serasi serta penilaian keberhasilannya.

Definisi teknologi pendidikan juga dinyatakan oleh AECT (2004) dalam Haryanto (2015:11) yang mendefinisikan bahwa teknologi pendidikan sebagai sebuah studi dan praktek dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan, memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Dari pengertian ini, jelas bahwa tujuan utamanya adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar bisa efektif, efisien, dan menarik serta mampu meningkatkan kinerja. Selain itu, ada sebuah sentuhan etika dalam menggunakan teknologi dalam praktik pendidikan dalam upaya untuk memfasilitasi proses pendidikan dan meningkatkan kinerja pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, teknologi dijadikan sebagai proses, produk, dan sistem yang dikembangkan untuk mengatasi masalah pendidikan, yaitu masalah mutu, pemerataan, relevansi, efisiensi, dan produktivitas, sehingga untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan suatu disiplin keilmuan khusus yaitu teknologi pendidikan. Karena itulah, pengertian teknologi pendidikan bisa dilihat sebagai 1) sebuah proses yang bisa meningkatkan nilai tambah; 2) produk, yang digunakan dan atau dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja; 3) struktur atau sistem, dimana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan (Haryanto, 2015: 14-15).   

Teknologi pendidikan dan teknologi pembelajaran telah membawa pada upaya terwujudnya berbagai ide dan pemikiran serta prosedur tindakan yang harus dilakukan dalam rangka mewujudkan proses inovasi dalam dunia pendidikan sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang baru baik itu yang berhubungan dengan ide, proses, prosedur, dan hasil yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan berbagai sumber belajar (Darmawan, 2014).

Daftar Pustaka

Darmawan, D. (2013). Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Darmawan, D. (2014). Inovasi Pendidikan Pendekatan Praktik Teknologi Multimedia dan Pembelajaran Online. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Darmawan, D. (2017). Teknologi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Haryanto (2015). Teknologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Prress.


Sabtu, 02 Maret 2019

MODEL PEMBELAJARAN RUMPUN PEMROSESAN INFORMASI

Ai Susilawati
A.    Pengertian Model Pembelajaran
Strategi menurut Kemp (1995) dalam Rusman (2014) adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapatnya Kemp, Dick and Crey (1985) dalam Rusman (2014) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu perangkat materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada peserta didik atau siswa. Upaya mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun dapat tercapai secara optimal, maka diperlukan suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian bisa terjadi suatu strategi pembelajaran menggunakan beberapa metode. Misalnya, untuk melaksanakan strategi ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode Tanya jawab atau bahkan diskusi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. Oleh sebab itu, strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjukan pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan kata lain, strategi adalah a plan of operation achieving something; sedangkan metode adalah a way in achieving something.
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Roy Kellen (1998) dalam Rusman (2014) mencatat bahwa terdapat dua pendekatan pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusa pada guru (teacher centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (students centered approaches. Pembelajaran yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif, atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran inkuiri dan diskoveri serta pembelajaran induktif.
Sedangkan model-model pembelajaran sendiri biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Dalam pembahasan ini akan dibahas tentang model pembelajran rumpun pemrosesan informasi.

B.     Pengertian Model Pemrosesan Informasi
Model ini berdasarkan teori belajara kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep dan menggunakan simbol verbal dan visual. Teori pemrosesan infromasi/ kognitif dipelopori oleh Robert Gagne (1985). Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran teejadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan outut dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal (keadaan individu, proses kognitif) dan kondisi-kondisi eksternal (rangsangan dari lingkungan) dan interaksi antar keduanya akan menghasilkan hasil belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan mannusia (human capitalities) yang terdiir dari informasi verbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan kecakapan motorik.
Menurut Hamalik (2011) pemrosesan informasi tersebut merujuk bagaimana cara-cara atau menerima informasi stimulus dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non-verbal. Kemudian menurut Sagala (2012) informasi yang diberikan dalam bentuk energi fisik tertentu (sinar untuk bahan tertulis, bunyi untuk bahan ucapan, tekanan untuk sentuhan, dan lain-lain) diterima oleh reseptor yang peka terhadap tanda dalam bentuk-bentuk tertentu. Pada model ini, mengutamakan bagaimana membantu siswa agar mampu berpikir produktif, memecahkan masalah dengan kemampuan intelektual yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Model pemrosesan informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengordinasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya.
Selain itu, menurut Surya (2013) rumpun mode pemrosesan informasi merupakan model-model mengajar yang tergolong kedalam rumpun ini berorientasi kepada kecakapan siswa dalam memproses informasi mengacu pada cara-cara orang menangani rangsangan dari lingkungan, mengorganisasi data, melihat masalah, mengembangkan konsep, dan memecahkan masalah, dan menggunakan lambing-lambang verbal dan non-verbal. Beberapa model pemrosesan informasi menekankan pada aspek kecakapan pembelajar untuk memecahkan masalah dan menekankan aspek berpkir yang produktif sedangkan beberapa yang lainnya lebih menekankan pada konsep-konsep  dan informasi yang dijabarkan dari disiplin-disiplin akademik. Disamping itu, model-model dalam rumpun ini juga memperhatikan aspek hubungan sosial, dan perkembangan fungsi diri pribadi secara terpadu melalui fungsi intelektual.

C.    Fase Pembelajaran Model Pemrosesan Informasi
Menurut Robert M. Gagne dalam Rusman (2014) dalam proses pembelajaran model pemrosesan informasi terdiri dari delapan fase, yakni sebagai berikut:
1)      Motivasi, fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tertentu (motivasi instrinsik dan ekstrinsik).
2)      Pemahaman, fase individu menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran. Pemahaman didapat melalui perhatian.
3)      Pemerolehan, individu memberikan makna/mempersepsikan segala informasi yang ada pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori peserta didik.
4)      Penahanan, menahan informasi yang sampai pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori siswa.
5)      Ingatan kembali, mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada rangsangan.
6)      Generalisasi, menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluan tertentu.
7)      Perlakuan, perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran.
8)      Umpan balik, individu memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya.
Selanjutnya Rusman (2014) menyebutkan ada ada sembilan langkah yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik berkaitan dengan pembelajaran pemrosesan informasi, yakni sebagai berikut:
1)      Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa.
2)      Memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topik yang akan dibahas.
3)      Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran.
4)      Menyampaikan isi pembelajaran sesuai dengan topik yang telah direncanakan.
5)      Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
6)      Memberikan penguatan pada perilaku pembelajaran.
7)      Memberikan feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa.
8)      Melaksanakan penilaian proses dan hasil.
9)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menjawab berdasarkan pengalamannya.

D.    Strategi Pembelajaran dalam Model Pemrosesan Informasi
Menurut Rusman (2014) model pemrosesan informasi ini meliputi beberapa strategi pembelajaran diantaranya:
1)      Mengajar induktif, yaitu untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan membentuk teori.
2)      Latihan inquiry, yaitu untuk mencari dan menemukan informasi yang memang diperlukan.
3)      Inquiry keilmuan, bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin ilmu, dann diharapkan akan memperoleh pengalaman dalam domain-domain disiplin ilmu lainnya.
4)      Pembentukan konsep, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir induktif, mengembangkan konsep, dan kemampuan analisis.
5)      Model pengembangan, bertujuan untuk mengembangkan intelegensi umum, terutama berpikir logis, aspek sosial dan moral.
6)      Advanced organizer model, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memproses informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubunngkan satuan ilmu pengetahuan secara bermakna.
Lebih lanjut Surya (2004) mengemukakan bahwa beberapa rumpun model pemrosesan informasi, yaitu model berpikir induktif, model latihan inkuiri, inkuiri ilmiah, penemuan konsep, pertumbuhan konsep, model pinata lanjutan, dan memori. Macam-macam model pemrosesan informasi tersebut akan dibahas secara lengkap sebagai berikut:
1)      Berpikir induktif
Model ini merupakan karya besar Hilda taba. Ia juga termasuk salah satu pencetus model pengembangan kurikulum yang bernama model pengembangan kurikulum Hilda taba. Model berpikir induktif ini beranggapan bahwa kemampuan berpikir seseorang itu tidak dengan sendirinya berkembang dengan baik jika proses pembelajaran dikembangkan tanpa memperhatikan kesesuaian dengan kebutuhan berpikir seseorang.  Kemampuan berpikir harus diajarkan melalui pendekatan khusus yang memungkinkan peserta didik terampil dalam berpikir.
Model berpikir induktif ini merupakan suatu strategi mengajar yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik mengubah informasi. Kemudian model ini dikembangkan atas dasar kemampuan berpikir dapat diajarkan, berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data, dan proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan.
Model berpikir induktif dilaksanakan dalam lima langkah, yaitu:
a.       Membuat unit-unit percobaan (producing pilot units).
b.      Menguji unit-unit eksperimen (testing experimental units) menguji ulang unit-unit yang telah digunakan oleh guru dikelas itu sendiri, kelas lain atau kelas yang berbeda.
c.       Merevisi dan mengkonsolidasi yaitu mengadakan perbaikan dan penyempurnaan pada unit yang dicobakan.
d.      Mengembangkan jaringan kerja untuk lebih meyakinkan apakah unit-unit yang telah direvisi dan konsolidasi dapat digunakan lebih luas atau tidak.
e.       Memasang dan mendesiminasi unit-unit baru yang dihasilkan.
2)      Latihan inkuiri (inkuiri training)
Model latihan inkuiri dicetuskan oleh Richard Suchman. Menurutnya bahwa model ini digunakan untuk melatih peserta didik agar bisa melakukan penelitian, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara alamiah (Sagalas, 2014). Tujuan utama model ini adalah bagaimana agar peserta didik bisa memformulasikan masalah yang menarik, misterius, serta menantang agar peserta didik bisa berpikir ilmiah.
Kemudian menurut Suchman dalam Uno (2009) bahwa peserta didik secara alamiah manusia memiliki kecenderungan untuk selalu mencari tahu akan segala sesuatu yang menarik perhatiannya, manusia akan menyadari rasa keingintahuan segala sesuatu tersebut dan akan belajar untuk menganalisis strategi berpikirnya, srtategi baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan atau digabungkan dengan strategi lama yang telah dimiliki oleh peserta didik, penelitian kooperatif dapat memperkaya kemampuan berpikir dan membantu peserta didik belajar tentang suatu ilmu yang senantiasa bersifat tentatif dan belajar menghargai penjelasan atau solusi alternatif.
Kemudian menurut Anurrahman (2012) menjelaskan bahwa model ini dikembangkan melalui beberapa langkah, yakni sebagai berikut.
a.       Mempertentangkan suatu masalah (dalam hal ini guru menjelaskan prosedur inquiri dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang bertentangan).
b.      Siswa melakukan pengumpulan data serta melakukan klarifikasi.
c.       Siswa melakukan pengujian hipotesis.
d.      Siswa mengorganisasikan data memberikan penjelasan.
e.       Siswa melakukan analisis strategi inquiri dan mengembangkan secara lebih efektif.
3)      Inkuri Ilmiah
Model inkuri ilmiah ini dipelopori oleh Josep J. Schwab. Model Inkuiri ilmiah bertujuan agar peserta didik agar bisa meneliti, menjelaskan fenomena dan memecahkan masalah secara ilmiah serta mengajarkan bagaimana cara melakukan pencarian dan perenungan tentang pilihan-pilihan dan alternative-alternatif yang harus dihadapi manakala memmikirkan makna pendidikan, hakikat sains, dan karakter pemikiran pendidikan.
Menurut Aunurrahaman (2012) penggunaan model ini dalam proses pembelajaran dilakukan dalam beberapa tahap, yakni sebagai berikut.
a.       Menyajikan area dalam penelitian kepada siswa;
b.      Siswa merumuskan masalah;
c.       Siswa mengidentifikasi masalah di dalam kegiatan penelitian;
d.      Siswa menentukan cara-cara untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya.
Dalam penerapan model ini dalam pembelajaran dituntut agar terciptanya iklim kelas yang kooperatif. Dalam hal ini guru agar bisa membimbing terlaksananya proses inquiry dan mendorong siswa agar berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran.
4)      Model penemuan konsep
Model penemuan konsep ini dipelopori oleh Jerome Bruner. Model ini berangkat dari suatu pandangan bahwa lingkungan memiliki manusia yang beragam. Peserta didik harus bisa membedakan, mengkatagorikan, dan menamakan semua itu sehingga menemukan suatu konsep. Jadi model penemuan konsep adalah suatu pendekatan yang bertujuan membantu siswa memahami konsep tertentu. Model ini bisa diterapkan pada semua umur, mulai dari anak-anak sampai pada dewasa
Menurutnya bahwa belajar memiliki tiga proses, yaitu: (1) memperoleh informasi baru; (2) mentransformasi pengetahuan; (3) menguji relevansi dan ketepatan ilmu pengetahuan. Menurut Aunurrahman (2012) bahwa model penemuan konsep merupakan model pembelajaran yang dirancang untuk menata dan menyusun data sehingga konsep-konsep penting dapat dipelajari secara tepat dan efisien.
Dalam penerapan model ini dalam pembelajaran meliputi dalam tiga tahap, yakni sebagai berikut.
a.       Presentasi data dan identifikasi konsep, meliputi:
·         Guru mempresentasikan conto-contoh nama;
·         Siswa membandingkan ciri positif dan negatif dari contoh yang dikemukakan;
·         Siswa menyimpulkan dan menguji hipotesis;
·         Siswa memberikan arti sesuai dengan ciri-ciri esensial;
b.      Menguji pencapaian konsep yang meliputi beberapa kegiatan, meliputi:
·         Siswa mengidentifikasi tambahan contoh yang tidak memiliki nama;
·         Guru mengkofirmasikan hipotesis, konsep nama dan definisi sesuai dengan ciri-ciri esensial.
c.       Menganalisis kemampuan berpikir strategis, meliputi:
·         Siswa mendeskripsikan pemikiran-pemikiran mereka;
·         Siswa mendiskusikan hipotesis dan atribut-atribut;
·         Siswa mendiskusikan bentuk dan jumlah hipotesis.
5)      Pertumbuhan kognitif
Model ini dipelopori oleh Piaget dkk. Model ini menegaskan bahwa perkembangan kognitif sebagian besar dipengaruhi oleh manipulasi dan interaktif aktif peserta didik dengan lingkungannya dimana pengetahuan datang dari tindakannya. Melalui interaksi dengan lingkungan, struktur kognitif akan selalu berkembangan pengalaman dan berubah terus menerus selama interaksi itu belangsung. Cara ini akan membantu peserta didik agar meninmgkatkan pertumbuhan intelektualnya yang dimulai dari proses reflektif sampai pada peserta didik mampu memikirkan kejadian potensial dan secara mental mampu mengeksplorasi kemungkinan akibatnya.
Pada dasarnya model ini dirancang untuk meningkatkan perkembangan intelektual, penalaran logis, tetapi dapat diterapkan pada perkembangan sosial, karena pengalaman-pengalaman penting bagi terjadinya perkembangan.
Menurut Sanjaya (2007) ada enam tahapan yang harus dilakukan dalam model pembelajaran pertumbuhan kognitif yaitu:
a.       Tahap orientasi
Pada tahap ini guru mengkondisikan siswa pada posisi siap untuk melakukan pembelajaran. Tahap orientasi dilakukan dengan, pertama, penjelasan tujuan yang harus dicapai baik tujuan yang berhubungan dengan penguasaan materi pelajaran yang harus dicapai, maupun tujuan yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau kemampuan berpikir yang harus dimiliki siswa. Kedua, penjelasan proses pembelajaran yang harus dilakukan siswa, yaitu penjelasan tentang apa yang harus dilakukan siswa dalam setiap tahapan proses pembelajaran.
b.      Tahap pelacakan
Tahap pelacakan adalah tahap penjajakan untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar siswa sesuai dengan tema atau pokok persoalan yang akan dibicarakan. Melalui tahapan ini guru mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkap pengalaman apa saja yang telah dimiliki siswa yang dianggap relevan dengan tema yang akan dikaji.
c.       Tahap konfrontasi
Tahap konfrontasi adalah tahapan penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Untuk merangsang peningkatan kemampuan siswa pada tahapan ini guru dapat memberikan persoalan-persoalan yang dilematis yang memerlukan jawaban atau jalan keluar. Pada tahap ini guru harus dapat mengembangkan dialog agar siswa benar-benar memahami persoalan yang harus dipecahkan.
d.      Tahap inkuiri
Pada tahap ini siswa belajar berpikir yang sesungguhnya. Melalui tahapan inkuri, siswa diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Pada tahapan ini guru harus memberikan ruang dan kesempatan untuk mengembangkan gagasan dalam upaya pemecahan persoalan. Melalui berbagai tehnik bertanya guru harus dapat menumbuhkan keberanian siswa agar mereka dapat menjelaskan, mengungkap fakta sesuai dengan pengalamannya, memberikan argumentasi yang meyakinkan, mengembangkan gagasan dan lain sebagainya.
e.       Tahap akomodasi
Tahap akomodasi adalah tahap pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan. Pada tahap ini siswa dituntut untuk dapat menemukan kata-kata kunci sesuai dengan topik atau tema pembelajaran. Pada tahap ini melalui dialog, guru membimbing agar siswa dapat menyimpulkan apa yang mereka temukan dan mereka pahami sekitar topik yang dipermasalahkan.
f.        Tahap transfer
Tahap transfer adalah tahapan penyajian masalah baru yang sepadan dengan masalah yang disajikan. Tahap transfer dimaksudkan sebagai tahapan agar siswa mampu mentransfer kemampuan berpikir setiap siswa untuk memecahkan masalah-masalah baru. Pada tahap ini guru dapat memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan topik pembahasan
6)      Advanced Organizer
Model ini dipelopori oleh David Ausubel, yang dimana untuk menerapkan konsepsi tentang struktur kognitif dalam merancang pembelajaran sehingga bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari informasi yang baru. Menurut Aunurrahman (2012) Advanced organizer dalam proses pembelajaran memiliki tiga tahap, yaitu sebagai berikut.
a.       Tahap pertama
·         Menjelaskan tujuan pembelajaran;
·         Menjelaskan panduan pembelajaran;
·         Menumbuhkan kesadaran pengetahuan dan pengalaman siswa yang relevan;
Pada tahap ini dilakukan agar menarik minat peserta didik dan agar pemikiran dan aktivitas yang mereka lakukan berorientasi pada tujuan pembelajaran.
b.      Tahap kedua
·         Menjelaskan materi pembelajaran;
·         Membangkitkan perhatian siswa;
·         Mengatur secara eksplisit tugas-tugas;
Pada tahap ini, bagaimana guru mempertahankan perhatian siswa yang sudah tumbuh melalui kegiatan tahap pertama agar mereka dapat memahami arah kegiatan secara jelas.
c.       Tahap ketiga
·         Menggunakan prinsip-prinsip secara terintegrasi;
·         Meningkatkan keaktivitas pembelajaran;
·         Mengembangkan pendekatan-pendekatan kritis guna memperjelas materi pembelajaran.
7)      Memorisasi
Model ini digunakan agar peserta didik mampu mengembangkan kemampuannya dalam menyerap dan megintegrasikan informasi sehingga siswa-siswa dapat mengingat informasi yang telah diterima dan dapat me-recall kembali pada saat yang diperlukan.
Menurut Aunurrahman (2012) model pembelajaran jenis ini dapat dilakukan melalui beberapa tahap berikut ini:
a.       Mencermati materi, yakni materi yang telah diberikan digarisbawahi bagian yang penting, memberi tanda pada bagian yang diperlukan;
b.      Mengembangkan hubungan, yakni materi yang telah diberikan dicari hubungan antar materi yang saling terkait, dengan menggunakan kata kunci, kata yang bergaris atau dengan melingkarkan kata tertentu;
c.       Mengembangkan sensori image, dengan menggunakan teknik yang lucu atau mungkin dengan kata-kata yang berlebihan sehingga lebih mudah diingat;
d.      Melatih re-call dengan memperhatikan tahapan sebelumnya dan hal ini harus dipelajari secara terus menerus.

E.     Implikasi dalam Pembelajaran
Implikasi teori belajar kognitif (Piaget) dalam pembelajaran dikutip dari Rusman (2014) diantaranya:
1)      Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak. Anak akan dapat belajar dengan baik apabila ia mampu menghadapi lingkungan dengan baik.
2)      Guru harus dapat membantu anak agar dapat belajar berinteraksi dengan lingkungan belajarnya sebaik mungkin. (fasilitaor, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani).
3)      Bahan yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing, beri peluang kepada anak untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
4)      Dikelas, berikan kesempatan paada anak untuk dapat bersosialisasi dan diskusi sebanyak mungkin. 

KESIMPULAN
Dalam proses pembelajaran diperlukan adanya model pembelajaran agar proses pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Salahsatu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran pemrosesan informasi. Model pemrosesan informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengordinasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya. Ada beberapa model pembelajaran yang termasuk model pembelajaran rumpun pemrosesan informasi diantaranya yaitu model berpikir induktif, model pencapaian konsep, model induktif kata bergambar, model penelitian ilmiah, model latihan penelitian, model menghafal, model sinektik, dan model advance organizer. Pada intinya dalam setiap model pembelajaran seorang guru harus melakukan perannya dengan baik dan diharapkan mampu mengembangkan model-model pembelajaran tersebut agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Rusman, (2014). Model-Model Pembelajaran Mengemangkan Profesionalisme Guru. Edisi Kedua. Jakarta: PT. Raja Grafindo   Persada.
Sagala, Syaiful. (2013). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya, Wina. (2007). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Surya, Mohamad. (2004). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: CV. Pustaka Bani Quraisy.
Surya, Mohamad. (2013). Psikologi Guru Konsep dan Aplikasi dari Guru, untuk Guru. Bandung: Alfabeta. 
Hamalik, Oemar. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Sinar Grafika.