Ai Susilawati
A. Pengertian Model Pembelajaran
Strategi
menurut Kemp (1995) dalam Rusman (2014) adalah suatu kegiatan pembelajaran yang
harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara
efektif dan efisien. Senada dengan pendapatnya Kemp, Dick and Crey (1985) dalam
Rusman (2014) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu
perangkat materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama
untuk menimbulkan hasil belajar pada peserta didik atau siswa. Upaya mengimplementasikan
rencana pembelajaran yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang
telah disusun dapat tercapai secara optimal, maka diperlukan suatu metode yang
digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian
bisa terjadi suatu strategi pembelajaran menggunakan beberapa metode. Misalnya,
untuk melaksanakan strategi ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus
metode Tanya jawab atau bahkan diskusi dengan memanfaatkan sumber daya yang
tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. Oleh sebab itu, strategi
berbeda dengan metode. Strategi menunjukan pada sebuah perencanaan untuk
mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk
melaksanakan strategi. Dengan kata lain, strategi adalah a plan of operation achieving something; sedangkan metode adalah a way in achieving something.
Pendekatan
dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Roy Kellen (1998) dalam Rusman
(2014) mencatat bahwa terdapat dua pendekatan pembelajaran, yaitu pendekatan
yang berpusa pada guru (teacher centered
approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (students centered approaches. Pembelajaran yang berpusat pada guru menurunkan
strategi pembelajaran langsung (direct
instruction), pembelajaran deduktif, atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan
pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi
pembelajaran inkuiri dan diskoveri serta pembelajaran induktif.
Sedangkan
model-model pembelajaran sendiri biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip
atau teori pengetahuan. Dalam pembahasan ini akan dibahas tentang model
pembelajran rumpun pemrosesan informasi.
B.
Pengertian
Model Pemrosesan Informasi
Model
ini berdasarkan teori belajara kognitif (Piaget) dan berorientasi pada
kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan
informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan
mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep dan menggunakan simbol
verbal dan visual. Teori pemrosesan infromasi/ kognitif dipelopori oleh Robert
Gagne (1985). Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan.
Perkembangan
merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran teejadi proses
penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan outut dalam
bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara
kondisi internal (keadaan individu, proses kognitif) dan kondisi-kondisi
eksternal (rangsangan dari lingkungan) dan interaksi antar keduanya akan
menghasilkan hasil belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan
informasi yang berupa kecakapan mannusia (human capitalities) yang terdiir dari
informasi verbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan
kecakapan motorik.
Menurut
Hamalik (2011) pemrosesan informasi tersebut merujuk bagaimana cara-cara atau
menerima informasi stimulus dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan
masalah, menemukan konsep-konsep, serta menggunakan simbol-simbol verbal dan
non-verbal. Kemudian menurut Sagala (2012) informasi yang diberikan dalam
bentuk energi fisik tertentu (sinar untuk bahan tertulis, bunyi untuk bahan
ucapan, tekanan untuk sentuhan, dan lain-lain) diterima oleh reseptor yang peka
terhadap tanda dalam bentuk-bentuk tertentu. Pada model ini, mengutamakan bagaimana
membantu siswa agar mampu berpikir produktif, memecahkan masalah dengan
kemampuan intelektual yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Model
pemrosesan informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat
dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan
cara menggali dan mengordinasikan data, merasakan adanya masalah dan
mengupayakan jalan pemecahannya.
Selain
itu, menurut Surya (2013) rumpun mode pemrosesan informasi merupakan
model-model mengajar yang tergolong kedalam rumpun ini berorientasi kepada
kecakapan siswa dalam memproses informasi mengacu pada cara-cara orang
menangani rangsangan dari lingkungan, mengorganisasi data, melihat masalah,
mengembangkan konsep, dan memecahkan masalah, dan menggunakan lambing-lambang
verbal dan non-verbal. Beberapa model pemrosesan informasi menekankan pada
aspek kecakapan pembelajar untuk memecahkan masalah dan menekankan aspek
berpkir yang produktif sedangkan beberapa yang lainnya lebih menekankan pada
konsep-konsep dan informasi yang
dijabarkan dari disiplin-disiplin akademik. Disamping itu, model-model dalam
rumpun ini juga memperhatikan aspek hubungan sosial, dan perkembangan fungsi
diri pribadi secara terpadu melalui fungsi intelektual.
C.
Fase
Pembelajaran Model Pemrosesan Informasi
Menurut
Robert M. Gagne dalam Rusman (2014) dalam proses pembelajaran model pemrosesan
informasi terdiri dari delapan fase, yakni sebagai berikut:
1) Motivasi,
fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan
dalam mencapai tujuan tertentu (motivasi instrinsik dan ekstrinsik).
2) Pemahaman,
fase individu menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran.
Pemahaman didapat melalui perhatian.
3) Pemerolehan,
individu memberikan makna/mempersepsikan segala informasi yang ada pada dirinya
sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori peserta didik.
4) Penahanan,
menahan informasi yang sampai pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan
dalam memori siswa.
5) Ingatan
kembali, mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada
rangsangan.
6) Generalisasi,
menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluan tertentu.
7) Perlakuan,
perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran.
8) Umpan
balik, individu memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya.
Selanjutnya
Rusman (2014) menyebutkan ada ada sembilan langkah yang harus diperhatikan oleh
seorang pendidik berkaitan dengan pembelajaran pemrosesan informasi, yakni
sebagai berikut:
1) Melakukan
tindakan untuk menarik perhatian siswa.
2) Memberikan
informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topik yang akan dibahas.
3) Merangsang
siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran.
4) Menyampaikan
isi pembelajaran sesuai dengan topik yang telah direncanakan.
5) Memberikan
bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
6) Memberikan
penguatan pada perilaku pembelajaran.
7) Memberikan
feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa.
8) Melaksanakan
penilaian proses dan hasil.
9) Memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menjawab berdasarkan pengalamannya.
D.
Strategi
Pembelajaran dalam Model Pemrosesan Informasi
Menurut
Rusman (2014) model pemrosesan informasi ini meliputi beberapa strategi
pembelajaran diantaranya:
1) Mengajar
induktif, yaitu untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan membentuk teori.
2) Latihan
inquiry, yaitu untuk mencari dan menemukan informasi yang memang diperlukan.
3) Inquiry
keilmuan, bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin ilmu,
dann diharapkan akan memperoleh pengalaman dalam domain-domain disiplin ilmu
lainnya.
4) Pembentukan
konsep, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir induktif,
mengembangkan konsep, dan kemampuan analisis.
5) Model
pengembangan, bertujuan untuk mengembangkan intelegensi umum, terutama berpikir
logis, aspek sosial dan moral.
6) Advanced
organizer model, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memproses informasi
yang efisien untuk menyerap dan menghubunngkan satuan ilmu pengetahuan secara
bermakna.
Lebih
lanjut Surya (2004) mengemukakan bahwa beberapa rumpun model pemrosesan
informasi, yaitu model berpikir induktif, model latihan inkuiri, inkuiri
ilmiah, penemuan konsep, pertumbuhan konsep, model pinata lanjutan, dan memori.
Macam-macam model pemrosesan informasi tersebut akan dibahas secara lengkap
sebagai berikut:
1) Berpikir
induktif
Model
ini merupakan karya besar Hilda taba. Ia juga termasuk salah satu pencetus
model pengembangan kurikulum yang bernama model pengembangan kurikulum Hilda
taba. Model berpikir induktif ini beranggapan bahwa kemampuan berpikir
seseorang itu tidak dengan sendirinya berkembang dengan baik jika proses
pembelajaran dikembangkan tanpa memperhatikan kesesuaian dengan kebutuhan berpikir
seseorang. Kemampuan berpikir harus
diajarkan melalui pendekatan khusus yang memungkinkan peserta didik terampil
dalam berpikir.
Model
berpikir induktif ini merupakan suatu strategi mengajar yang dikembangkan untuk
meningkatkan kemampuan peserta didik mengubah informasi. Kemudian model ini
dikembangkan atas dasar kemampuan berpikir dapat diajarkan, berpikir merupakan
suatu transaksi aktif antara individu dengan data, dan proses berpikir
merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan.
Model
berpikir induktif dilaksanakan dalam lima langkah, yaitu:
a. Membuat
unit-unit percobaan (producing pilot
units).
b. Menguji
unit-unit eksperimen (testing experimental
units) menguji ulang unit-unit yang telah digunakan oleh guru dikelas itu
sendiri, kelas lain atau kelas yang berbeda.
c. Merevisi
dan mengkonsolidasi yaitu mengadakan perbaikan dan penyempurnaan pada unit yang
dicobakan.
d. Mengembangkan
jaringan kerja untuk lebih meyakinkan apakah unit-unit yang telah direvisi dan
konsolidasi dapat digunakan lebih luas atau tidak.
e. Memasang
dan mendesiminasi unit-unit baru yang dihasilkan.
2) Latihan
inkuiri (inkuiri training)
Model
latihan inkuiri dicetuskan oleh Richard Suchman. Menurutnya bahwa model ini
digunakan untuk melatih peserta didik agar bisa melakukan penelitian,
menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara alamiah (Sagalas, 2014).
Tujuan utama model ini adalah bagaimana agar peserta didik bisa memformulasikan
masalah yang menarik, misterius, serta menantang agar peserta didik bisa
berpikir ilmiah.
Kemudian
menurut Suchman dalam Uno (2009) bahwa peserta didik secara alamiah manusia
memiliki kecenderungan untuk selalu mencari tahu akan segala sesuatu yang
menarik perhatiannya, manusia akan menyadari rasa keingintahuan segala sesuatu
tersebut dan akan belajar untuk menganalisis strategi berpikirnya, srtategi
baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan atau digabungkan dengan
strategi lama yang telah dimiliki oleh peserta didik, penelitian kooperatif
dapat memperkaya kemampuan berpikir dan membantu peserta didik belajar tentang
suatu ilmu yang senantiasa bersifat tentatif dan belajar menghargai penjelasan
atau solusi alternatif.
Kemudian
menurut Anurrahman (2012) menjelaskan bahwa model ini dikembangkan melalui
beberapa langkah, yakni sebagai berikut.
a. Mempertentangkan
suatu masalah (dalam hal ini guru menjelaskan prosedur inquiri dan menjelaskan
peristiwa-peristiwa yang bertentangan).
b. Siswa
melakukan pengumpulan data serta melakukan klarifikasi.
c. Siswa
melakukan pengujian hipotesis.
d. Siswa
mengorganisasikan data memberikan penjelasan.
e. Siswa
melakukan analisis strategi inquiri dan mengembangkan secara lebih efektif.
3) Inkuri
Ilmiah
Model
inkuri ilmiah ini dipelopori oleh Josep J. Schwab. Model Inkuiri ilmiah
bertujuan agar peserta didik agar bisa meneliti, menjelaskan fenomena dan
memecahkan masalah secara ilmiah serta mengajarkan bagaimana cara melakukan
pencarian dan perenungan tentang pilihan-pilihan dan alternative-alternatif
yang harus dihadapi manakala memmikirkan makna pendidikan, hakikat sains, dan
karakter pemikiran pendidikan.
Menurut
Aunurrahaman (2012) penggunaan model ini dalam proses pembelajaran dilakukan
dalam beberapa tahap, yakni sebagai berikut.
a. Menyajikan
area dalam penelitian kepada siswa;
b. Siswa
merumuskan masalah;
c. Siswa
mengidentifikasi masalah di dalam kegiatan penelitian;
d. Siswa
menentukan cara-cara untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya.
Dalam
penerapan model ini dalam pembelajaran dituntut agar terciptanya iklim kelas
yang kooperatif. Dalam hal ini guru agar bisa membimbing terlaksananya proses
inquiry dan mendorong siswa agar berpartisipasi secara aktif dalam proses
pembelajaran.
4) Model
penemuan konsep
Model
penemuan konsep ini dipelopori oleh Jerome Bruner. Model ini berangkat dari
suatu pandangan bahwa lingkungan memiliki manusia yang beragam. Peserta didik
harus bisa membedakan, mengkatagorikan, dan menamakan semua itu sehingga
menemukan suatu konsep. Jadi model penemuan konsep adalah suatu pendekatan yang
bertujuan membantu siswa memahami konsep tertentu. Model ini bisa diterapkan
pada semua umur, mulai dari anak-anak sampai pada dewasa
Menurutnya
bahwa belajar memiliki tiga proses, yaitu: (1) memperoleh informasi baru; (2)
mentransformasi pengetahuan; (3) menguji relevansi dan ketepatan ilmu
pengetahuan. Menurut Aunurrahman (2012) bahwa model penemuan konsep merupakan
model pembelajaran yang dirancang untuk menata dan menyusun data sehingga
konsep-konsep penting dapat dipelajari secara tepat dan efisien.
Dalam
penerapan model ini dalam pembelajaran meliputi dalam tiga tahap, yakni sebagai
berikut.
a. Presentasi
data dan identifikasi konsep, meliputi:
·
Guru mempresentasikan conto-contoh nama;
·
Siswa membandingkan ciri positif dan
negatif dari contoh yang dikemukakan;
·
Siswa menyimpulkan dan menguji hipotesis;
·
Siswa memberikan arti sesuai dengan
ciri-ciri esensial;
b. Menguji
pencapaian konsep yang meliputi beberapa kegiatan, meliputi:
·
Siswa mengidentifikasi tambahan contoh
yang tidak memiliki nama;
·
Guru mengkofirmasikan hipotesis, konsep
nama dan definisi sesuai dengan ciri-ciri esensial.
c. Menganalisis
kemampuan berpikir strategis, meliputi:
·
Siswa mendeskripsikan pemikiran-pemikiran
mereka;
·
Siswa mendiskusikan hipotesis dan
atribut-atribut;
·
Siswa mendiskusikan bentuk dan jumlah
hipotesis.
5) Pertumbuhan
kognitif
Model
ini dipelopori oleh Piaget dkk. Model ini menegaskan bahwa perkembangan
kognitif sebagian besar dipengaruhi oleh manipulasi dan interaktif aktif
peserta didik dengan lingkungannya dimana pengetahuan datang dari tindakannya.
Melalui interaksi dengan lingkungan, struktur kognitif akan selalu berkembangan
pengalaman dan berubah terus menerus selama interaksi itu belangsung. Cara ini
akan membantu peserta didik agar meninmgkatkan pertumbuhan intelektualnya yang
dimulai dari proses reflektif sampai pada peserta didik mampu memikirkan
kejadian potensial dan secara mental mampu mengeksplorasi kemungkinan
akibatnya.
Pada
dasarnya model ini dirancang untuk meningkatkan perkembangan intelektual,
penalaran logis, tetapi dapat diterapkan pada perkembangan sosial, karena
pengalaman-pengalaman penting bagi terjadinya perkembangan.
Menurut
Sanjaya (2007) ada enam tahapan yang harus dilakukan dalam model pembelajaran
pertumbuhan kognitif yaitu:
a. Tahap
orientasi
Pada
tahap ini guru mengkondisikan siswa pada posisi siap untuk melakukan
pembelajaran. Tahap orientasi dilakukan dengan, pertama, penjelasan tujuan yang
harus dicapai baik tujuan yang berhubungan dengan penguasaan materi pelajaran
yang harus dicapai, maupun tujuan yang berhubungan dengan proses pembelajaran
atau kemampuan berpikir yang harus dimiliki siswa. Kedua, penjelasan proses
pembelajaran yang harus dilakukan siswa, yaitu penjelasan tentang apa yang
harus dilakukan siswa dalam setiap tahapan proses pembelajaran.
b. Tahap
pelacakan
Tahap
pelacakan adalah tahap penjajakan untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar
siswa sesuai dengan tema atau pokok persoalan yang akan dibicarakan. Melalui
tahapan ini guru mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkap
pengalaman apa saja yang telah dimiliki siswa yang dianggap relevan dengan tema
yang akan dikaji.
c. Tahap
konfrontasi
Tahap
konfrontasi adalah tahapan penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai
dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Untuk merangsang peningkatan
kemampuan siswa pada tahapan ini guru dapat memberikan persoalan-persoalan yang
dilematis yang memerlukan jawaban atau jalan keluar. Pada tahap ini guru harus
dapat mengembangkan dialog agar siswa benar-benar memahami persoalan yang harus
dipecahkan.
d. Tahap
inkuiri
Pada
tahap ini siswa belajar berpikir yang sesungguhnya. Melalui tahapan inkuri,
siswa diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Pada tahapan ini guru
harus memberikan ruang dan kesempatan untuk mengembangkan gagasan dalam upaya
pemecahan persoalan. Melalui berbagai tehnik bertanya guru harus dapat
menumbuhkan keberanian siswa agar mereka dapat menjelaskan, mengungkap fakta
sesuai dengan pengalamannya, memberikan argumentasi yang meyakinkan,
mengembangkan gagasan dan lain sebagainya.
e. Tahap
akomodasi
Tahap
akomodasi adalah tahap pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan.
Pada tahap ini siswa dituntut untuk dapat menemukan kata-kata kunci sesuai
dengan topik atau tema pembelajaran. Pada tahap ini melalui dialog, guru
membimbing agar siswa dapat menyimpulkan apa yang mereka temukan dan mereka
pahami sekitar topik yang dipermasalahkan.
f.
Tahap transfer
Tahap
transfer adalah tahapan penyajian masalah baru yang sepadan dengan masalah yang
disajikan. Tahap transfer dimaksudkan sebagai tahapan agar siswa mampu
mentransfer kemampuan berpikir setiap siswa untuk memecahkan masalah-masalah
baru. Pada tahap ini guru dapat memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan topik
pembahasan
6) Advanced
Organizer
Model
ini dipelopori oleh David Ausubel, yang dimana untuk menerapkan konsepsi
tentang struktur kognitif dalam merancang pembelajaran sehingga bisa
meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari informasi yang baru. Menurut
Aunurrahman (2012) Advanced organizer dalam proses pembelajaran memiliki tiga
tahap, yaitu sebagai berikut.
a. Tahap
pertama
·
Menjelaskan tujuan pembelajaran;
·
Menjelaskan panduan pembelajaran;
·
Menumbuhkan kesadaran pengetahuan dan
pengalaman siswa yang relevan;
Pada
tahap ini dilakukan agar menarik minat peserta didik dan agar pemikiran dan
aktivitas yang mereka lakukan berorientasi pada tujuan pembelajaran.
b. Tahap
kedua
·
Menjelaskan materi pembelajaran;
·
Membangkitkan perhatian siswa;
·
Mengatur secara eksplisit tugas-tugas;
Pada
tahap ini, bagaimana guru mempertahankan perhatian siswa yang sudah tumbuh
melalui kegiatan tahap pertama agar mereka dapat memahami arah kegiatan secara
jelas.
c. Tahap
ketiga
·
Menggunakan prinsip-prinsip secara
terintegrasi;
·
Meningkatkan keaktivitas pembelajaran;
·
Mengembangkan pendekatan-pendekatan kritis
guna memperjelas materi pembelajaran.
7) Memorisasi
Model
ini digunakan agar peserta didik mampu mengembangkan kemampuannya dalam
menyerap dan megintegrasikan informasi sehingga siswa-siswa dapat mengingat
informasi yang telah diterima dan dapat me-recall
kembali pada saat yang diperlukan.
Menurut
Aunurrahman (2012) model pembelajaran jenis ini dapat dilakukan melalui
beberapa tahap berikut ini:
a. Mencermati
materi, yakni materi yang telah diberikan digarisbawahi bagian yang penting,
memberi tanda pada bagian yang diperlukan;
b. Mengembangkan
hubungan, yakni materi yang telah diberikan dicari hubungan antar materi yang
saling terkait, dengan menggunakan kata kunci, kata yang bergaris atau dengan
melingkarkan kata tertentu;
c. Mengembangkan
sensori image, dengan menggunakan teknik yang lucu atau mungkin dengan
kata-kata yang berlebihan sehingga lebih mudah diingat;
d. Melatih
re-call dengan memperhatikan tahapan
sebelumnya dan hal ini harus dipelajari secara terus menerus.
E.
Implikasi
dalam Pembelajaran
Implikasi
teori belajar kognitif (Piaget) dalam pembelajaran dikutip dari Rusman (2014) diantaranya:
1) Bahasa
dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru
hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak. Anak akan
dapat belajar dengan baik apabila ia mampu menghadapi lingkungan dengan baik.
2) Guru
harus dapat membantu anak agar dapat belajar berinteraksi dengan lingkungan
belajarnya sebaik mungkin. (fasilitaor, ing
ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani).
3) Bahan
yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing, beri peluang
kepada anak untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
4) Dikelas,
berikan kesempatan paada anak untuk dapat bersosialisasi dan diskusi sebanyak
mungkin.
KESIMPULAN
Dalam
proses pembelajaran diperlukan adanya model pembelajaran agar proses
pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Model
pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk
membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang
bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.
Salahsatu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran
pemrosesan informasi. Model pemrosesan informasi pada dasarnya menitikberatkan
pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri)
untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengordinasikan data, merasakan
adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya. Ada beberapa model
pembelajaran yang termasuk model pembelajaran rumpun pemrosesan informasi
diantaranya yaitu model berpikir induktif, model pencapaian konsep, model
induktif kata bergambar, model penelitian ilmiah, model latihan penelitian,
model menghafal, model sinektik, dan model advance organizer. Pada intinya
dalam setiap model pembelajaran seorang guru harus melakukan perannya dengan
baik dan diharapkan mampu mengembangkan model-model pembelajaran tersebut agar
tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Rusman, (2014). Model-Model Pembelajaran Mengemangkan Profesionalisme Guru. Edisi
Kedua. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sagala, Syaiful. (2013). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung:
Alfabeta.
Sanjaya, Wina. (2007). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Surya, Mohamad. (2004). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran.
Bandung: CV. Pustaka Bani Quraisy.
Surya, Mohamad. (2013). Psikologi Guru
Konsep dan Aplikasi dari Guru, untuk Guru. Bandung: Alfabeta.
Hamalik, Oemar. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:
Sinar Grafika.