Oleh : Ai Susilawati
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Untuk mendapatkan
sesuatu seseorang harus melakukan usaha agar apa yang diinginkan dapat
tercapai. Salahsatu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan belajar. Kata
belajar merupakan kata yang sudah tidak asing lagi karena kata tersebut sudah
sangat sering didengar, dilakukan, dan dijalani. Semua orang pasti pernah
mengalami yang namanya belajar. Belajar merupakan hal yang mempengaruhi dan
berperan penting dalam pembentukan pribadi dan prilaku setiap individu. Sebagian
besar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar (Sukmadinata,
2005). Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam
kompetensi, keterampilan, dan sikap. Usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu
merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya, mendapatkan ilmu atau
kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar manusia
menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang
sesuatu.
Belajar juga dapat
dikatakan sebagai suatu aktivitas yang pada hakikatnya akan bermuara kepada
hasil yang dicapai. Hasil belajar itu lahir melalui proses pengukuran dan
penilaian dengan suatu instrument. Setelah seseorang melakukan perbuatan
belajar maka pada dirinya nampak suatu perubahan kearah peningkatan kognitif,
afektif dan psikomotor. Perubahan tingkah laku itu memang dapat diamati dan
berlaku dalam waktu relatif lama, yang disertai dengan usaha orang tersebut,
sehingga orang dari tidak mampu mengerjakan menjadi mampu
mengerjakannya.
Belajar juga di
definisikan sebagai sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan
perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas
tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan,
pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan kemampuan- kemampuan yang lain. Belajar
merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam
setiap jenjang pendidikan. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling
pokok dan penting dalam keseluruhan proses pendidikan. Kegiatan belajar bisa
dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lainnya.
Dari uraian di atas telah
dibahas sedikit tentang belajar dan dapat disimpulkan bahwa setiap individu
pasti pernah mengalami belajar, karena belajar merupakan hal yang mempengaruhi
dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan prilaku setiap individu.
Dalam makalah ini penulis mencoba memaparkan tentang mengapa manusia harus
belajar.
B.
Rumusan Masalah
1) Apa pengertian belajar?
2) Mengapa manusia harus belajar?
C.
Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui pengertian dari belajar
2) Untuk mengetahui mengapa manusia harus belajar
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas yang didalamnya terdapat
sebuah proses. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) belajar adalah
berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; belajar juga dapat diartikan sebagai
berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Pengertian
ini berarti menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang
dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai
hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar
berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi
tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya. Sama seperti yang dikemukakan oleh
Slameto (2003) yang menyatakan bahwa “belajar merupakan suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya”.
Ada beberapa pendapat lain yang mengemukakan pengertian
belajar. Menurut Nasution, (1991) dalam Hanafy (2014) menyatakan bahwa belajar
dalam arti luas merupakan suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau
berubahnya suatu tingkah laku baru yang bukan disebabkan oleh kematangan dan
sesuatu hal yang bersifat sementara sebagai hasil dari terbentuknya respons
utama. Belajar merupakan aktivitas, baik fisik maupun psikis yang menghasilkan
perubahan tingkah laku yang baru pada diri individu yang belajar dalam bentuk
kemampuan yang relatif konstan dan bukan disebabkan oleh kematangan atau
sesuatu yang bersifat sementara. Perubahan yang disebabkan oleh kematangan,
pertumbuhan, dan perkembangan seperti anak yang mampu berdiri dari duduknya
atau perubahan fisik yang disebabkan oleh kecelakaan tidak dapat dikategorikan
sebagai hasil dari perbuatan belajar meskipun perubahan itu berlangsung lama
dan konstan (Hanafy, 2014).
Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang
terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi
ranah-ranah kognitif, afektif dan ranah psikomotorik. Proses belajar yang
mengaktualisasikan ketiga ranah tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu. Dalam
perspektif psikologi, belajar adalah merupakan proses dasar dari perkembangan
hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif
individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi
hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar. Belajar itu bukan sekedar
pengalaman, belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan berbagai
bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Sementara pengertian belajar
dalam perspektif agama yaitu Islam, belajar merupakan kewajiban bagi setiap
muslim dan muslimah dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat
hidupnya meningkat. Belajar juga merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku
menuju perubahan tingkah laku yang baik, dimana perubahan tersebut terjadi
melalui latihan atau pengalaman. Perubahan tingkah laku tersebut harus relatif
mantap yang merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang. Tingkah laku yang
mengalami perubahan karena belajar tersebut menyangkut berbagai aspek
kepribadian baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian,
pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan ataupun sikap (Darnim dan
Khairil, 2011 dalam Nidawati, 2013).
Belajar merupakan kewajiban bagi setiap individu. Di mana
aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara
wajar, kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak lancar. Kadang-kadang dapat
cepat menangkap apa yang dipelajari namun sebaliknya kadang-kadang terasa
sangat sulit. Aktivitas belajar setiap individu memang tidak ada yang sama.
Perbedaan individual inilah yang
menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. Secara umum,
ada dua faktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor intern yang mencakup
segala keadaan yang muncul dalam diri anak didik dan faktor ekstern yang
mencakup segala keadaan yang berasal dari luar diri anak didik. Dari kedua
faktor ini, yang terkait dengan psikologi belajar adalah faktor intern atau
faktor dalam diri anak didik.
Menurut Durton dalam Nidawati (2013) “learning is a change the individual due to
intraction of that individual and his environments which fills a need and makes
him capable of dealing adequality with his environment”. Belajar adalah
suatu perubahan dalam diri individu sebagai hasil interaksi lingkungannya untuk
memenuhi kebutuhan dan menjadikannya lebih mampu melestarikan lingkungan secara
memadai. Hilgard dan Bower dalam Nidawati (2013) juga mengemukakan bahwa belajar
memiliki arti “to gain knowledge,
comprehension, or mastery of trough experience or study, to fix in the mind or
memory, memorize; to acquire trough experience, to become in form of to find
out”. Menurut pengertian ini, belajar adalah uuntuk memperoleh pengetahuan atau
menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan
mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti
dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.
Sedangkan menurut Skinner dalam Dimyati dan Mudjiono
(2009) belajar adalah suatu prilaku pada saat orang belajar, maka responnya
menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun.
Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut: (1) kesempatan terjadinya peristiwa
yang menimbulkan respon pembelajar, (2) respon si pembelajar, dan (3)
konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan setiap
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk
pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan nilai yang positif sebagai
pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari.
Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi
juga berbentuk kecakapan, ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat,
watak, dan penyesuaian diri. Jadi dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai
rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia
seutuhnya. Dengan belajar seorang individu bisa mengetahui sesuatu yang belum
diketahuinya, dan bisa pula mengetahui bahwa kehidupan bukanlah soal hidup,
mencari kenikmatan lalu mati. Dengan belajar seorang bisa mampu mengendalikan
dirinya dengan mematuhi hukum alam yang berlaku dan mengetahui serta mengambil posisi dalam peradaban
manusia serta buah yang dihasilkan dengan belajar bukan hanya kecerdasan,
tetapi kedamaian, kejernihan, dan kebijaksanan yang sejati.
Pada intinya hakikat belajar adalah adanya perubahan
tingkah laku, maka ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan ke dalam
ciri-ciri belajar menurut Djamarah (2002) sebagai berikut :
1)
Perubahan
yang terjadi secara sadar
Individu
yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan atau sekurangkurangnya
individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2)
Perubahan
dalam belajar bersifat fungsional
Sebagai
hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri indiviu berlangsung
terus-menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan
perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar
berikutnya.
3)
Perubahan
dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam
perbuatan belajar, perubahan selalu bertambah dan tertuju memperoleh suatu yang
lebih baik dari sebelumnya. Makin banyak usah belajar dilakukan, makin banyak
dan makin baik perubahan yang diperoleh.
4)
Perubahan
dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan
bersifat sementara yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja seperti
berkeringat, keluar air mata, menangis dan sebagainya. Perubahan terjadi karena
proses belajar bersifat menetap atau permanen.
5)
Perubahan
mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan
yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan
keseluruhan tingkah laku jika seseorang belajar sesuatu sebagai hasil ia akan
mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan,
keterampilam, pengetahuan.
B.
Mengapa Manusia Harus Belajar?
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa belajar
merupakan proses atau usaha yang dilakukan setiap individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baik. Dalam bagian ini akan dipaparkan tentang
mengapa manusia harus belajar. Ada beberapa alasan mengapa manusia harus
belajar, diantaranya:
1)
Kewajiban
Dilihat dari segi agama belajar itu merupakan kewajiban
setiap individu. Sudah jelas didalam Al-qur’an dan hadits dijelaskan bahwa
belajar itu wajib bagi setiap individu. Belajar dalam pandangan Islam memiliki
arti yang sangat penting. Sehingga hampir setiap saat manusia tak pernah lepas
dari aktivitas belajar. Keunggulan suatu umat manusia atau bangsa juga akan
sangat tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan rasio, anugrah untuk
belajar dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Sehingga dalam Al- qur’an dinyatakan
Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur (QS. Al-
Mujadilah: 11).
Belajar merupakan jalan menuju sukses. Dengan belajar
seseorang dapat mengetahui banyak hal. Dalam hal ini, Islam pun sangat
menekankan tentang belajar. Tujuan belajar dalam Islam bukan mencari rezeki di
dunia semata, tetapi untuk sampai kepada hakikat, memperkuat akhlak, artinya
mencari atau mencapai ilmu yang sebenarnya dan akhlak yang sempurna (Tohirin,
2006 dalam Syarifudin 2011). Islam mengajarkan umatnya untuk terus belajar
selagi masih ada kesempatan dan sebelum jasad bersatu dengan tanah. Islam tidak
saja mencukupkan pada anjuran supaya belajar bahkan menghendaki supaya
seseorang itu terus melakukan pembahasan, research
(penelitian) dan studi. Rasulullah SAW dalam haditsnya menyatakan, ”seseorang
itu dapat dianggap seseorang yang alim dan berilmu, selama ia masih terus
belajar, apabila ia menyangka bahwa ia sudah serba tahu, maka sesungguhnya ia
jahil (bodoh)” (Dalyono, 2007 dalam Syarifudin 2011).
2)
Memperoleh
Perubahan
Belajar merupakan suatu proses kegiatan penting yang
harus dilakukan setiap orang secara maksimal untuk dapat menguasai atau
memperoleh sesuatu. Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan setiap
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk
pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan nilai yang positif sebagai
pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari.
Oleh karena itu alasan yang selanjutnya mengapa manusia harus belajar adalah untuk
memperoleh suatu perubahan dalam dirinya. Perubahan itu mencakup perubahan
tingkah laku. Artinya seseorang
yang telah belajar akan berubah tingkah lakunya. Tetapi tidak semua perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari belajar. Menurut Surya (2013) ciri-ciri dari
adanya perubahan tingkah laku dalam diri individu diantaranya:
·
Perubahan yang disadari. Artinya, individu yang
mengikuti proses pembelajaran menyadari bahwa pengetahuannya telah bertambah,
keterampilannya telah bertambah, ia lebih percaya diri, dan sebagainya. Jadi,
orang yang berubah perilakunya karena mabuk, tidak termasuk dalam pengertian
perubahan karena pembelajaran, karena yang bersangkutan tidak menyadari apa
yang terjadi dalam dirinya.
·
Perubahan yang bersifat kontinu (berkesinambungan).
Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran akan berlangsung secara berkesinambungan,
artinya suatu perubahan yang telah terjadi, menyebabkan terjadinya perubahan
perilaku yang lain. Misalnya, seorang anak yang telah belajar membaca,
perilakunya akan berubah dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca.
Kecakapannya dalam membaca menyebabkan ia dapat membaca lebih baik lagi dan
dapat belajar yang lain, sehingga ia dapat memperoleh perubahan perilaku yang
lebih banyak dan lebih luas.
·
Perubahan yang bersifat fungsional. Artinya,
perubahan yang telah diperoleh sebagai hasil pembelajaran menghasilkan manfaat
bagi individu yang bersangkutan. Misalnya kecakapan dalam berbicara menggunakan
bahasa Inggris memberikan manfaat untuk belajar hal- hal yang lebih luas.
·
Perubahan yang bersifat positif. Artinya, perubahan
yang diperoleh senantiasa bertambah sehingga berbeda dengan keadaan sebelumnya.
Orang yang telah belajar akan merasakan ada sesuatu yang lebih banyak, sesuatu
yang lebih baik, sesuatu yang lebih luas dalam dirinya. Misalnya ilmu menjadi
lebih baik dan sebagainya.
·
Perubahan yang bersifat aktif. Artinya perubahan
itu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi melalui serangkaian aktivitas yang
terencana dan terarah. Perubahan yang terjadi karena kematangan, bukan hasil
pembelajaran karena dengan sendirinya sesuai dengan tahapan- tahapan
perkembangan. Dalam kematangan, perubahan itu akan terjadi dengan sendirinya
meskipun tidak ada usaha pembelajaran. Misalnya kalau seorang anak sudah sampai
pada usia tertentu, akan sendirinya dapat belajar dengan sendirinya dapat
berjalan meskipun belum/tidak belajar.
·
Perubahan yang bersifat permanen (menetap).
Artinya, pembelajaran yang terjadi sebagai hasil pembelajaran akan kekal dalam
diri individu, setidak- tidaknya untuk masa tertentu. Ini berarti bahwa
perubahan bersifat sementara, seperti sakit, keluar air mata karena menangis,
berkeringat, mabuk, bersin, dan sebagainya bukanlah perubahan sebagai hasil
pembelajaran. Sedangkan kecakapan kamahiran menulis, misalnya, adalah hasil
pembelajaran karena bersifat menetap dan berkembang terus.
·
Perubahan yang bertujuan dan terarah. Artinya,
perubahan itu terjadi karena ada sesuatu yang akan dicapai. Dalam proses
pembelajaran, semua aktivitas terarah pada pencapaian suatu tujuan tertentu.
Misalnya seorang belajar bahasa Inggris dengan tujuan agar ia dapat berbicara
menggunakan bahasa Inggris dan dapat mengkaji bacaan-bacaan yang ditulis
menggunakan bahasa Inggris. Semua aktivitas pembelajaran terarah kepada tujuan
itu, sehingga perubahan- perubahan yang terjadi akan sesuai dengan tujuan yang
telah direncanakan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa belajar adalah untuk
memperoleh perubahan. Setelah adanya
proses belajar diharapakan pebelajar dapat berubah, mengubah kebiasaan yang
buruk menjadi baik, mengubah sikap dari negatif menjadi positif, tidak hormat
menjadi hormat, benci menjadi sayang dan sebagainya (Dalyono, 2007 dalam
syarifuddin, 2011).
3)
Kebutuhan
Belajar adalah suatu kebutuhan dasar manusia yang paling
penting dalam mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Manusia dalam
kenyataan hidupnya menunujukan bahwa manusia membutuhkan suatu proses belajar
yang memungkinkan dirinya untuk menyatakan eksistensinya secara utuh dan
seimbang. Manusia tidak dirancang untuk hidup secara langsung tanpa proses
belajar terlebih dahulu untuk memahami jati dirinya dan menjadi dirinya.
Menurut Surya (2013) aktivitas belajar terjadi karena adanya kebutuhan yang
harus dipenuhi dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Dengan kata lain, belajar
merupakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai suatu tujuan. Belajar
tidak akan efektif tanpa adanya dorongan dan tujuan.
4)
Menggapai
Cita-cita
Setiap manusia di mana saja berada tentu melakukan
kegiatan belajar mengajar. Seorang siswa yang ingin mencapai cita-citanya tentu
harus belajar dengan giat. Bukan hanya di sekolah saja, tetapi juga harus
belajar di rumah, masyarakat, lembaga pendidikan ekstra di luar sekolah, berupa
kursus, les privat, bimbingan studi dan sebagainya (Dalyono, 2007 dalam
Syarifudin 2011).
5) Memiliki Keterampilan
Selain
kecerdasan dibutuhkan juga keterampilan. Kehidupan di masa sekarang ini
menuntut berbagai keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki oleh seseorang
sebagai bekal hidupnya. Keterampilan akan diperoleh dari hasil belajar.
Perubahan dalam bentuk skill atau keterampilan karena adanya latihan. Belajar
mempunyai keterkaitan dengan latihan meskipun tidak identik. Dalam pembelajaran
dan dalam latihan akan terjadi perubahan prilaku. Pembelajaran akan berhasil
apabila disertai dengan latihan-latihan yang teratur dan terarah (Surya, 2013).
6) Menambah Pengetahuan dalam Berbagai Bidang Ilmu
Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir. Pemilikan
pengetahuan dan kemampuan berpikir sebagai yang tidak bisa dipisahkan. Dengan
kata lain tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir tanpa bahan pengetahuan,
sebaliknya kemampuan berpikir akan memperkaya pengetahuan. Menurut Surya (2013)
kemampuan berpikir merupakan
suatu proses kognitif dalam tingkat yang tinggi yang terjadi dalam tatanan
abstrak dan didukung oleh daya nalar. Dalam berpikir, individu akan menggunakan
sebagian informasi dan konsep-konsep yang dimilikinya untuk memecahkan masalah
yang dihadapinya. Untuk dapat berpikir secara efektif, seseorang harus
memguasai sejumlah informasi (fakta, konsep, generalisasi, prinsip, teori, dan
sebagainya) untuk dijadikan sebagai dasar dalam memecahkan masalah yang
dihadapinya. Informasi yang dimiliki seseorang diperoleh melalui proses
pembelajaran. Ini berarti bahwa terdapat keterkaitan antara proses berpikir
dengan pembelajaran. Pembelajaran yang efektif (terutama pembelajaran pemecahan
masalah) sangat memerlukan keterampilan berpikir. Dan, untuk berpikir
diperlukan hasil-hasil pembelajaran. Berpikir itu sendiri sebenarnya merupakan
proses pembelajaran. Orang tidak mungkin berpikir tanpa belajar, dan tidak
mungkin belajar tanpa berpikir. Sehingga badapat dikatakan bahwa dengan belajar
seseorang dapat menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu.
Selain itu, dilihat dari pengertian belajar yang
merupakan suatu proses sehingga adanya perubahan tingkah laku hasil dari
belajar tersebut. Menurut Surya (2013) beberapa pakar menyebutkan adanya
beberapa jenis prilaku sebagai hasil dari pembelajaran. Lindgren (1968)
menyebutkan isi pembelajaran terdiri atas kecakapan, informasi, pengertian dan
sikap. Dua pakar yang banyak memberikan kontribusi berkenaan dengan hasil
pembelajaran adalah Benyamin Bloom (1956) dan Robert Gagne (1957,1977) yang
kemudian menjadi rujukan dalam penerapan
pembelajaran di dunia pendidikan. Pendapat Bloom yang dikenal dengan sebutan
taksonomi tujuan pendidikan Bloom menyebutkan ada tiga ranah perilaku sebagai
tujuan dan hasil pembelajaran, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Belajar erat kaitannya dengan proses perubahan. Namun,
tidak semua proses perubahan dikatakan belajar. Misalnya, seseorang yang
meminum minuman keras, lalu mabuk. Maka perubahan itu tidaklah dikatakan
belajar. Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap
pada seseorang akibat pengalaman atau latihan yang menyangkut aspek fisik
maupun psikis, seperti dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak berpengetahuan
menjadi tahu tentang sesuatu, dari tahu menjadi lebih tahu, dari tidak memiliki
keterampilan menjadi memiliki keterampilan dan sebagainya. Ada beberapa alasan
mengapa manusia harus belajar diantaranya yaitu karena belajar merupakan
kewajiban, karena dengan belajar akan memperoleh perubahan, karena belajar
merupakan suatu kebutuhan, karena dengan belajar akan mampu menggapai cita-cita, karena dengan belajar
akan memiliki keterampilan dan akan menambah ilmu pengetahuan dalam berbagai
bidang studi.
B.
Saran
Setiap individu harus selalu meningkatkan kualitas
hidupnya. Kualitas hidup seseorang dapat diperoleh dengan belajar karena dengan
belajar suatu perubahan akan dicapai sebagai hasil dari proses belajar
tersebut. Oleh karena itu setiap individu harus terus belajar tanpa henti, tidak
mengenal individu itu muda atau tua karena belajar merupakan suatu kewajiban dan
kebutuhan setiap individu.
DAFTAR
PUSTAKA
Dimyati,
dan Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Djumarah,
Syaiful Bahri. (2002). Psikologi Belajar.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Hanafy,
M. Sain. (2014). Konsep Belajar dan
Pembelajaran. Jurnal Lentera Pendidikan
Vol. 17 No. 1 Juni 2014 66-79.
Nidawati.
(2013). Belajar dalam Perspektip
Psikologi dan Agama. Jurnal Pionir Vol. 1 no. 1 Juli- Desember 2013.
Pusat Bahasa-Depdiknas-Organizational Body. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Edisi
4. Jakarata: Gramedia Pustaka Utama.
Slameto.
(2003). Belajar dan Faktor- Faktor yang
Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukmadinata,
Nana, S. (2005). Landasan Psikologi Proses
Pendidikan. Bandung: PT. Rosda Karya.
Surya,
Mohamad. (2013). Psikologi Guru Konsep
dan Aplikasi dari Guru, untuk Guru. Bandung: Alfabeta.
Syarifudin, Ahmad. (2011). Penerapan Model Pembelajaran
Cooperative Belajar Dan Faktor-
Faktor
Yang Mempengaruhinya.
Jurnal Ta’dib Vol. XVI, No. 01, Edisi Juni 2011 Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar